Senin, 06 November 2017

Contoh Makalah Filsafat Ilmu

KATA PENGANTAR


Puji syukur kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Metode Pendekatan Ilmiah model Empirisme menurut pendapat yang dikemukakan oleh David Hume tepat waktu. Sholawat beserta salam kita limpah curahkan kepada junjungan nabi kita Nabi Muhammad SAW. yang telah merubah zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang.
Makalah ini membahas tentang Metode Pendekatan Ilmiah model Empirisme menurut pendapat yang dikemukakan oleh David Hume. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai ilmu pengetahuan tambahan mengenai metode pendekatan ilmiah, dan saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, saya mengharap saran dan kritik dalam pembuatan makalah ini sebagai bahan evaluasi untuk pembuatan makalah selanjutnya.
            Demikian makalah ini saya susun, apabila terdapat kata-kata yang kurang tepat, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

                                                                                                Yogyakarta, 26  September 2017
           
                                                                                    Penyusun.










DAFTAR ISI


A.     Empirisme. 4

 



BAB I

PENDAHULUAN

Revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami oleh umat manusia sesudah belajar bercocok tanam, membangun rumah, dan mengembangkan kebudayaan kota sekitar 12 ribu tahun yang lalu adalah perkembangan masyarakat modern. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak daripadanya. Modernisasi adalah proses yang amat ambivalen. Yang akan berjalan terus entah kita menyetujuinya atau tidak.
Mempertanyakan peranan filsafat dalam proses perkembangan masyarakat modern berarti mengandaikan bahwa proses itu tidak lepas dari cara berpikir manusia . antara cara manusia berpikir dan cara ia mewujudkan kehidupanya terdapat hubungan timbal balik.
Filsafat pasca Renaissance adalah filsafat dalam abad ke -17 dan ke -18. Dalam dua abad itu diletakan dasar – dasar spiritual gerakan modernisasi. Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern khususnya dalam abad ke -17 adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan sarana apakah yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri.  Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang bercorak epistemologi, maka dalam filsafat abad ke -17 munculah 2 aliran filsafat yang berbeda , bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut ialah Rasionalsisme dan Empirisme.

1.      Memahami Arti Empirisme
2.      Mengetahui Profil Singkat David Hume
3.      Mengetahui Pendekatan Ilmiah model Empirisme menurut pendapat yang dikemukakan oleh David Hume

 


BAB II

PEMBAHASAN


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, empiris berarti berdasarkan pengalaman ( terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan , pengamatan yang telah dilakukan ). menjadi sebuah aliran tatkala manusia mulai bertanya darimana ilmu itu mereka dapatkan. Aliran empirisme pertama kali berkembang di inggris pada abad ke 15 dengan Francis Bacon sebagai pelopornya. Bacon memperkenalkan metode eksperimen dalam penyelidikan / penelitian. Menurut Bacon, manusia melalui pengalaman dapat mengetahui benda – benda dan hukum – hukum relasi antara benda - benda. Ia juga memberikan sejumlah petunjuk agar seorang ilmuwan berhati – hati terhadap idola – idola, yaitu : (1) idola tribus yaitu menarik kesimpulan secara terburu – buru ; (2) idola specus yaitu menarik kesimpulan sesuai dengan seleranya ; (3) idola fori yaitu menarik kesimpulan berdasarkan pendapat orang banyak ; (4) idola threati yaitu menarik kesimpulan berdasar pendapat ilmuwan sebelumnya. Filosof empiris laina adalah thomas hobbes, ia juga meyakini bahwa pengenalan / pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman. Berbeda dari pendahulunya, Jhon Locke lebih terdorong untuk mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan fakta – fakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas-batas pengetahuan manusia.
Para penganut empirisme dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat – pendapat rasionalsime yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat a priori. Menurut penganut empirisme metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori, tetapi a posteriori  atau metode yang berdasarkan hal – hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian.
            Bagi penganut empirisme, sumber pengetahuan yang memadai itu ialah pengalaman, yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas mengatur dan mengolah bahan – bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.  Oleh karena itu para penganut aliran empirisme berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai ide bawaan atau innate ideas. Bagi mereka manusia itu ibarat kertas putih yang belum terisi oleh apa – apa, dan baru terisi oleh pengalaman – pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun batiniyah. Paham empirisme ini kemudian dikembangkan oleh David Hume

David Hume ( 1711-1776). Ia adalah filsuf skotlandia yang menyempurnakan empirisme dan sampai sekarang masih berpengaruh, ia menegaskan bahwa sumber satu – satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah pengalaman, dan ia sangat menentang kaum rasionalisme yang berlandaskan prinsip a priori, yang bertitik tolak dari ide – ide bawaan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan kedalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan, melalui pengamatan ini manusia memperoleh 2 hal yaitu : kesan - kesan ( impression ) dan pengertian – pengertian ( ideas ). Kesan – kesan ( impression ) adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik lahiriyah maupun batiniyah. Kesan – kesan ini menampakan diri dengan jelas hidup dan kuat terhadap pengamat. Pengertian - pengertian ( ideas ) merupakan penggambaran tentang pengamatan yang redup, kabur, samar – samar yang diperoleh dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan – kesan yang telah diterima melalui pengamatan langsung.
Dengan bertolak dari Locke dan berkeley ( 1685-1753) hume mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu apapun sebagai keseluruhan. Terutama kita tidak dapat mengetahui tentang Allah. Bahkan tentang hakikat orang lain, mengapa.? karena seluruh pengetahuan kita adalah terbatas pada pengalaman – pengalaman indrawi, hanya kesan – kesan yang kita terima melalui panca indra.
            Hume mau membongkar beberapa paham yang sangat penting bagi kita. Misalnya paham “sebab”. Menurut Hume tidak ada sebab dan akibat, melainkan hanya sederetan peristiwa, yang satu sesudah yang satunya. Yang kita lihat selalu hanya urutan dalam waktu, tetapi tak pernah unsur penyebab. Post hoc non propter hoc ( sesudahnya , bukan karenanya ). Misalnya, saya melemparkan batu kearah jendela, batu kena pada kaca, dan kaca pecah. Menurut hume yang dapat dipastikan hanyalah bahwa jendela pecah sesudah tersentuh batu, tetapi tidak bahwa batu ( dan saya ) menyebabkan pecahnya kaca jendela.
            Atau paham AKU . menurut Hume tidak ada AKU. Yang ada hanaya sederetan kesan terpotong – potong. Tidak lebih.  Apa relevansi filsafat yang sangat ekstrim dan memang sudah sering dikritik itu ? bahwa kita tidak dapat mempunyai pengetahuan yang pasti dan tidak dapat memahami apa – apa. Jadi sebaiknya kita hidup bagi sesaat saja. Paham seperti allah, tanggung jawab dan nilai adalah tanpa arti. Empirisme mempersiapkan nihilisme[1]. Pada hakikatnya pemikiran Hume bersifat analitis, kritis, dan skeptis. Ia berpangkal pada suatu keyakinan bahwa hanya kesan – kesanlah yang pasti, jelas dan tidak dapat diragukan. Berdasarkan pendapatnya ini, Hume sampai pada kesimpulan bahwa “aku” termasuk dalam dunia khayalan[2]. Sebab bagi Hume dunia hanya terdiri dari dari kesan – kesan yang terpisah - pisah, yang tidak dapat disusun secara objektif sistematis, karena tidak ada hubungan sebab akibat diantara kesan – kesan.
            Secara ringkas dapatlah dikatakan bahwa pengetahuan yang bersifat a priori terdiri dari proposisi analitik, yakni proposisi yang predikatnya sudah tercakup dalam subyek. Sebagai contoh, semua angsa putih, semua jejaka itu laki – laki, es itu dingin, lingkaran itu bulat dan lain- lain. Dan pendapat ini merupakan ciri khas pemikiran yang bercorak rasionalistik, sebaliknya ciri khas dari empiristik adalah a posteriori, dan proporsisinya adalah sintetik, yakni tak dapat diuji kebenaranya dengan menganalisis pernyataan tetapi harus diuji kebenaranya secara empiris. Misal : rumah mahal, motor baru, dan lain-lain.
Hume mengajukan 3 argumen untuk menganalisis ssuatu. Pertama , ada idea tentang sebab akibat ( kausalitas ) ; suatu kejadian disebabkan oleh kejadian dari argument kausalitas ini muncullah apa yang oleh hume disebut the strongest connection ( hubungan terkuat ) antara pengalaman kita dan the cement of universe yang merupakan kausalitas universal. Kausalitas universal ialah hokum yang menyatakan bahwa setiap kejadian pasti mempunyai penyebab. Kalau mobil mogok kita periksa karburator, system listriknya dan lain – lain. Akan tetapi , ada kalanya penyebab tersebut tidak diketahui. Kita hanya tahu bahwa sebab pasti ada, tetapi apa penyebab itu kita tidak tahu. Ini terjadi biasanya penyebab tersebut amat kompleks. Yang tidak mungkin ialah tidak ada sebab. Prinsip ini pada Leibnitz disebut alas an yang mencukupi sufficient reason, kata reason diganti dengan kata cause ( sebab ). Kedua , Karen kita mempercayai kausalitas dan penerapanya secara universal, kita dapat memperkirakan kejadian masa lalu dan masa depan kejadian. Untuk melakukan peramlan itu kita musti mempercayai observasi kita tentang kejadin sekarng serta relevansinya dengan masa depan agar kita berani menggeneralisasi pengalaman itu. Misalnya, bila saya pukul 6 pagi besok, saya sudah mengetahui bahwa matahari juga sudah terbit. Memgapa saya dapat meramal hal itu ? karena saya telah mengalami itu sejak lama ; observasi saya relevan dengan masa lalu dan masa datang tentang terbitnya matahari . sebetulnya hal itu merupakan penerapan prinsip induksi. Prinsip induksi dalam hal ini dapat diringkaskan menjadi “masa depan akan menjadi masa lalu”. Ketiga, dunia luar diri memang ada , yaitu dunia yang bebas dari pengalaman kita. Dunia itu ada sekalipun kita tidak mempunyai kesan dan idea tentangnya. Hume, seperti Berkeley menolak adanya pengertian substansi yang tidak dapat dipahami. Akan tetapi, Berkeley menggunakan penolakan itu untyk mempertahankan tuhan, sedangkan hume menolak idea ini. Ia tetap seorang skeptis, menolak adanya tuhan. Ia tetap bertahan pada pendirianya bahwa kita menerima eksistensi hanya bila eksistensi itu memang eksisten.
            Kita melihat bahwa 3 dasar kepercayaan yang diajukan oleh hume itu sesungguhnya saling berkaitan, yaitu pengertian tentang sebab yang mendukung prinsip induksi. Dan itu adalah pendukung teori kausalitas tentang persepsi yang mendukung tentang dunia luar diri. Hume sebenarnya mengambil kausalitas sebagai pusat utama seluruh pemikiranya. Ia menolak prinsip kausalitas universal dan menolak juga prinsip induksi dengan memperlihatkan bahwa tidak ada yang dapat dipertahankan baik relation of ideas dan matter of fact. Jadi, uraian diatas hanyalah “taktik” hume dalam menegakan sistemnya. Ia memulai dengan mengajukan pernyataan bahwa semua pengetahuan haruslah pengetahuan tentang sesuatu. Ia menerangkan apa yang dimaksudkanyadengan relation of ideas dan matter of fact. Ia memperlihatkan juga bagaimana cause dan effect merupakan basis seluru pemikiran untuk akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa pemikiran tidak dapat berupa sesuatu relation of ideas dan tidak juga berupa matter of fact. Pengertian yang digunakanya itu dijelaskan sebagai berikut.
            Semua objek pemikiran manusia secara alamiah dapat dibagi menjadi 2 yaitu relation of ideas dan matter of fact. Yang dimaksud relation of ideas adalah pengetahuan yang jelas dengan sendirinya secara akal maupun intuitif seperti pada geometri, aljabar, dan aritmetika. 3 x 5 = 15 adalah hubungan antar jumlah. Proposisi jenis ini cukup diperoleh dengan operasi pemikiran tanpa bergantung pada ada atau tidaknya bukti dilapangan. Yang dimaksud matter of fact ialah pengetahuan yang tidak terbukti kebenaranya, maupun kepalsuanya seperti pernyataan matahari akan terbit besok atau matahari tidak akan terbit besok. Kedua duanya tidak dapat dibuktikan. Pengetahuan tentang matter of fact kelihatanya ditemukan berdasarkan tilikan terhadap hokum sebab akibat.
            Mengenai pengetahuan pertama , ia tidak mengandung persoalan; pengetahuan ini tidak menyangkut pengalaman. Tentang pengetahuan jenis kedua, hume menjelaskan bahwa pengalaman kita bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Jika saya membakar jari saya diatas api, jari saya terbakar, maka saya mengatakan bahwa panas api itulah yang menyebabkan terbakarnya jari saya ( sebagai akibat ). Sebenarnya kita tidak dapat menjelaskan kausalitas itu. lalu Hume bertanya, dimanakah kita dapat mengetahui hakikat pengetahuan tentang hubungan sebab akibat itu.?
            Mengenai soal ini hume menyatakan bahwa bila anda ingin puas , anda mesti meneliti bagaimana anda sampai pada pengetahuan tentang sebab akibat. Kesimpulan hume ialah bahwa kita mengetahui sebab akibat bukan melalui akal, melainkan melalui pengalaman. Karena ita terlalu sering melihatnya, maka kita tahu bahwa bola biliyar bergerak dan menabrak bola lain dan masuk kedalam lubang yang dapat diperhitungkan sebelumnya. Seandainya anda belum pernah melihatnya, anda tidak akan memiliki idea apa – apa tentang itu. Anda juga tidak akan mampu membuat prediksi apa – apa. Jadi prediksi tentang sebab kaibat yang akan terjadi bergantung pada pengalaman yang mendahuluinya. Tidak ada akal aktau pemikiran apapun yang memadai untuk membuat prediksi. Hume mengajukan argument berikut ini.
            Setiap akibat adalah kejadian yang jelas yang berasal dari penyebabnya. Akibat itu tidak ditemukan didalam penyebab, dan konsep pertama tentang itu, yaitu suatu konsep a priori jelas merupakam konsep yang tidak semena – mena. Sebab dan akibat hanya dapat menegakan suatu pendirian atas observasi dan pengalaman. Bila kita berpikir a priori, dan begitu saja memutuskan sebab akibat sebagaimana hal itu muncul didalam jiwa kita, itu bebas dari observasi dan pengalaman, tidak akan menghasilkan pengertian tentang objek itu.
            Didalam argument ini hume mulai menjelaskan bahwa pendapat tentang sebab akibat tidak merupaakan suat hubungan antar idea ( relation of ideas ) karena hal itu tidak mempunyai bukti. Itu terbentuk semata – mata oleh akal kita, padahal hanya dengan akal kita tidak sampai pada pengetahuan adanya sebab akibat. Akhirnya hume menyimpulkan bahwa ide kausalitas itu tidak juga dapat diperoleh melalui persepsi ( ini adalah pengalaman. Sekalipun kita memahami berbagai sifat api ( karena mengalaminya ), kita tidak pernah dapat memahami kekuatan yang menyebabkan api membakar sesuatu. Pengetahuan kita tentang sebab tidak kita peroleh melalui induksi hasil pengalaman masa lalu. Dalam taktik hume diatas kelihatan bahwa pada akhirnya hume menentang induksi. Ia juga menentang prinsip induksi untuk memprediksi masa depan. Masa depan seperti masa lalu ditentangnya. Prinsip induksi tidak dapat dipertahankan. Jadi, mula – mula ia menolak adanya pengetahuan a priori, lalu ia menolak juga sebab akibat, menolak pola induksi yang berdasarkan pengalaman.  Jadi, habislah sudah segala macam cara memperoleh pengetahuan; semuanya ditolak. Inilah skeptis tingkat tinggi itu.
            Bagimana hakikat semua alas an kita tentang matter of fact.? Jawaban yang pantas ialah bahwa itu terdapat dalam hubungan antara sebab dan akibat. Akan tetapi, apa dasar atau alas an kita untuk mendukung konklusi itu.?
Dasarnya ialah pengalaman namun, apadak dasar konklusi pengalaman itu andal.? Ini yang sulit dijawab. Jawaban terbaik adalah : kita tidak tahu. Setelah kita mempunyai pengalaman operasi sebab akibat, konklusi kita tidak diperoleh dari akal ataupun melalui proses pengalaman itu.
            Alat indra kita menyampaikan kepada kita warna , ukuran k, kandungan roti, tetapi baik indra maupun akal tidak memberitahukan kepada kita tentang sifat – sifat itu mengenai caranya menjadikan kita kenyang dan badan menjadi kuat. Jadi, tidak ada yang kita ketahui mengenai hubungan antara sifat – sifat objek itu dengan akibat yang ditimbulkanya. Jiwa tidak mempunyai pedoman untuk membentuk konklusi mengenai hubungan yang konsisten dan teratur, yang tadi disangka jiwa dituntun oleh sifat – sifat objek dalam memahami dan memprediksi sebab akibat. Sama halanya dengan pengealaman masa lalu.ia hanya dapat memberi arah dan informasi mengenai objek pada saat dialami, tetapibagaimana pengalaman itu dikenakan pada masa depan atau pada objek lain, yang antara keduanya mempunyai kemiripan lahiriah, kita tidak tahu. Roti yang saya makan sekarang menyebabkan saya kenyang . apakah pada masa datang masih akan begitu.? Persoalan yang tidak diketahui ialah daya rahasia itu.
            Argument ini menjelaskan bahwa suatu hubungan sebab akibat tertentu pada masa lalu dapat dijadikan peramal untuk suatu hubungan sebab akibat yang mirip pada masa depan. Kesimpulan ini kelihatanya masuk akal. Bila sekarang saya makan, lalu akibatnya kenyang, maka cukup beralasan saya menyimpulkan bahwa pada masa depan, bila saya makan tentu akan kenyang juga. Akan tetapi justru hume bertanya mengapa argument begitu dikatakan masuk akal. Anda mengatakan bahwa hal itu ( hal bila makan kenyang dan pada masa depanpun akan kenyang bila makan ) dilakukan oleh pemikiran. Baiklah, tetapi cobalah jelaskan mengapa begitu. Apa perantara ( medium ) itu.? Maksudnya : apa medium yang menjelaskan hubungan sebab akibat, juga medium masa sekarang dan masa depan ?
            Disini hume mengingatkan lagi tentang pembagian pengetahuan yang dibuatnya. Pertama , pengetahauan yang diperoleh melalui pemikiran tentang hubungan antara idea dan idea ( yang disebutnya pengetahuan demonstrative ). Kedua, pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran tentang matter of fact ( yang disebutnya moral ). Didalam argumen diatas, katanya, tidak ada alasan demonstratif yang memadai untuk memprediksi masa depan berdasarkan pengalaman maa lalu, juga tidak ada alasan matter of fact yang memadai untuk terbentuknya kecenderungan pada kita untuk mempredikdi sebab kita tidak dapat secara pasti menyatakan bahwa masa depan itu sama betul ( persis ) dengan masa lalu. Sifat selalu berubah. Kesimpulan dari semua itu ialah prediksi tidak didapat melalui pengalaman. Jadi , kita sekarang tidak mempunyai apa – apa . pengetahuan a priori tidak ada. Pengetahan berdasarkan pengalamanpun tidak kuat karena sebab akibat tidak dapat kita jelaskan hubunganya. Argumen hume yng menentang prinsip kausalitas universal dan prinsip induksi pada dasarnya merupakan argumen menentang rasionalsime pada umumnya. Ia mengatakan bahwa hanya dengan berpikir , tanpa informasi dari pengalaman kita tidak mengetahui apa – apa tentang dunia. Dengan bantuan pengalaman juga kita tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu. Nah, jelaslah sudah sifat skeptis pada hume. Apa alasan bagi skeptis ini.? Juga tidak ada ,kata hume. Tidak ada jalan keluar dari skeptis, katanya. Akan tetapi, sebenarnya, demikian hume, hal ini tidak hanya pada filsafat, tidak hanya pada pemikiran akal bahkan tentang apakah matahari akan terbit besok, kita tidak tahu apa –a apa. Kita berpikir: bagaiman mungkin filsafat begitu jauh jaraknya dari kehidupan ? pantaslah ia disebut pemuncak skeptisisme[3].







BAB III

PENUTUP

David hume mengemukakan bahwa manusia memperoleh pengetahuanya dari pengalaman – pengalaman yang pernah seseorang itu alami. Ibarat kertas putih yang belum tergores tinta apapun itulah gambaran manusia sebelum mendapatkan pengalaman. Meskipun pendapatnya banyak yang menentang, namun sebenarnya pendapat empirisme ini ada benarnya. Manusia akan menjadi baik , lebih baik, baik sekali, sungguh baik manakala ia mendapatkan banyak pengalaman. Contohnya seorang anak berlatih mengendarai sepeda. Awalnya ia menggunakan roda bantu, lalu roda bantu itu dilepas, anak mulai jatuh, jatuh, jatuh lagi, dan lagi, kemudian suatu hari anak tersebut berhasil menyemimbangkan dirinya dalam bersepeda, karena ia sudah tahu, bagaimana cara ia jatuh, dan bagaimana cara ia mencegahnya.
Dalam dunia pendidikan, praktik merupakan cara terbaik untuk memperoleh pengalaman. Maka dari itu, libatkanlah peserta didik dalam semua kegiatan belajar mengajar. Jangan biarkan anak didik pasif, apalagi dibiarkan pasif. Karena anak akan terbiasa dan jauh memasuki zona nyaman pasifnya dan berdampak pula pada kurangnya pengalaman, bahkan akan menurunkan kepercayaan diri anak.











DAFTAR PUSTAKA

Mustansyir, Rizal. Munir, Misnal, Cet 1 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suseno, Franz magnis. Cet 1 1992. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius
Tafsir, Ahmad. Cet.1 1990. Filsafat Umum.Bandung: Remaja Rosdakarya


[1] Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, ( Jakarta : 1991 ), hlm 74
[2] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, ( Yogyakarta; 2001 ), hlm 77-81
[3] Filsafat Umum, Ahmad Tafsir (Bandung, cet 1 1990 ) , hlm 180-186