KATA PENGANTAR
Puji
syukur kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Metode Pendekatan Ilmiah
model Empirisme menurut pendapat yang dikemukakan oleh David Hume tepat waktu. Sholawat beserta salam kita limpah curahkan kepada junjungan nabi kita
Nabi Muhammad SAW. yang telah merubah zaman kegelapan ke zaman yang terang
benderang.
Makalah
ini membahas tentang Metode Pendekatan Ilmiah model Empirisme menurut pendapat
yang dikemukakan oleh David Hume. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai
ilmu pengetahuan tambahan mengenai metode pendekatan ilmiah, dan saya menyadari
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, saya mengharap
saran dan kritik dalam pembuatan makalah ini sebagai bahan evaluasi untuk
pembuatan makalah selanjutnya.
Demikian makalah ini
saya susun, apabila terdapat kata-kata yang kurang tepat, mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Yogyakarta,
26 September 2017
Penyusun.
DAFTAR ISI
A. Empirisme
BAB I
PENDAHULUAN
Revolusi kebudayaan
paling dahsyat yang dialami oleh umat manusia sesudah belajar bercocok tanam,
membangun rumah, dan mengembangkan kebudayaan kota sekitar 12 ribu tahun yang
lalu adalah perkembangan masyarakat modern. Modernisasi merupakan suatu proses
raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat
mengelak daripadanya. Modernisasi adalah proses yang amat ambivalen. Yang akan
berjalan terus entah kita menyetujuinya atau tidak.
Mempertanyakan
peranan filsafat dalam proses perkembangan masyarakat modern berarti
mengandaikan bahwa proses itu tidak lepas dari cara berpikir manusia . antara
cara manusia berpikir dan cara ia mewujudkan kehidupanya terdapat hubungan
timbal balik.
Filsafat pasca
Renaissance adalah filsafat dalam abad ke -17 dan ke -18. Dalam dua abad itu
diletakan dasar – dasar spiritual gerakan modernisasi. Wacana filsafat yang
menjadi topik utama
pada zaman modern khususnya dalam abad ke -17 adalah
persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah
bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan sarana apakah yang paling memadai
untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran
itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan –
pertanyaan yang bercorak epistemologi, maka dalam filsafat abad ke -17 munculah
2 aliran filsafat yang berbeda , bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat
tersebut ialah Rasionalsisme dan Empirisme.
1.
Memahami Arti Empirisme
2.
Mengetahui Profil Singkat David Hume
3.
Mengetahui Pendekatan Ilmiah model Empirisme menurut
pendapat yang dikemukakan oleh David Hume
BAB II
PEMBAHASAN
Menurut kamus besar bahasa
Indonesia, empiris berarti berdasarkan pengalaman ( terutama yang diperoleh
dari penemuan, percobaan , pengamatan yang telah dilakukan ). menjadi sebuah
aliran tatkala manusia mulai bertanya darimana ilmu itu mereka dapatkan. Aliran
empirisme pertama kali berkembang di inggris
pada abad ke 15 dengan Francis Bacon
sebagai pelopornya. Bacon memperkenalkan metode eksperimen dalam penyelidikan /
penelitian. Menurut Bacon,
manusia melalui pengalaman dapat mengetahui benda – benda dan hukum – hukum relasi
antara benda - benda. Ia juga memberikan sejumlah
petunjuk agar seorang ilmuwan berhati – hati terhadap idola – idola, yaitu :
(1) idola tribus yaitu menarik kesimpulan secara terburu – buru ; (2)
idola specus yaitu menarik kesimpulan sesuai dengan seleranya ; (3)
idola fori yaitu menarik kesimpulan berdasarkan pendapat orang banyak ;
(4) idola threati yaitu menarik kesimpulan berdasar pendapat ilmuwan sebelumnya.
Filosof empiris laina adalah thomas hobbes, ia juga meyakini bahwa pengenalan /
pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman. Berbeda dari pendahulunya, Jhon
Locke lebih terdorong untuk mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia,
kemudian menentukan fakta – fakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa
batas-batas pengetahuan manusia.
Para penganut empirisme dalam
berfilsafat bertolak belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka
menentang pendapat – pendapat rasionalsime yang berdasarkan atas
kepastian-kepastian yang bersifat a priori. Menurut
penganut empirisme metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori,
tetapi a posteriori atau metode
yang berdasarkan hal – hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian.
Bagi penganut empirisme, sumber
pengetahuan yang memadai itu ialah pengalaman, yang dimaksud pengalaman disini
ialah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman batin yang
menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas
mengatur dan mengolah bahan –
bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman. Oleh karena itu para penganut aliran empirisme
berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai ide bawaan atau innate ideas.
Bagi mereka manusia itu ibarat kertas putih yang belum terisi oleh apa – apa,
dan baru terisi oleh pengalaman – pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun
batiniyah. Paham
empirisme ini kemudian dikembangkan oleh David Hume
David Hume ( 1711-1776). Ia adalah
filsuf skotlandia yang menyempurnakan empirisme dan sampai sekarang masih
berpengaruh, ia menegaskan bahwa sumber satu – satunya untuk memperoleh
pengetahuan adalah pengalaman, dan ia sangat menentang kaum rasionalisme yang
berlandaskan prinsip a priori, yang bertitik tolak dari ide – ide
bawaan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan kedalam
hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan, melalui pengamatan ini manusia
memperoleh 2 hal yaitu : kesan - kesan ( impression ) dan pengertian –
pengertian ( ideas ). Kesan – kesan ( impression ) adalah
pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik lahiriyah maupun
batiniyah. Kesan – kesan ini menampakan diri dengan jelas hidup dan kuat
terhadap pengamat. Pengertian - pengertian ( ideas ) merupakan
penggambaran tentang pengamatan yang redup, kabur, samar – samar yang diperoleh
dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan – kesan
yang telah diterima melalui pengamatan langsung.
Dengan bertolak dari Locke dan
berkeley ( 1685-1753) hume mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu
apapun sebagai keseluruhan. Terutama kita tidak dapat mengetahui tentang Allah.
Bahkan tentang hakikat orang lain, mengapa.? karena seluruh pengetahuan kita
adalah terbatas pada pengalaman – pengalaman indrawi, hanya kesan – kesan yang
kita terima melalui panca indra.
Hume mau membongkar beberapa paham
yang sangat penting bagi kita. Misalnya paham “sebab”. Menurut Hume tidak ada
sebab dan akibat, melainkan hanya sederetan peristiwa, yang satu sesudah yang
satunya. Yang kita lihat selalu hanya urutan dalam waktu, tetapi tak pernah
unsur penyebab. Post hoc non propter hoc ( sesudahnya , bukan karenanya
). Misalnya, saya melemparkan batu kearah jendela, batu kena pada kaca, dan
kaca pecah. Menurut hume yang dapat dipastikan hanyalah bahwa jendela pecah
sesudah tersentuh batu, tetapi tidak bahwa batu ( dan saya ) menyebabkan
pecahnya kaca jendela.
Atau paham AKU . menurut Hume tidak
ada AKU. Yang ada hanaya sederetan kesan terpotong – potong. Tidak lebih. Apa relevansi filsafat yang sangat ekstrim dan
memang sudah sering dikritik itu ? bahwa kita tidak dapat mempunyai pengetahuan
yang pasti dan tidak dapat memahami apa – apa. Jadi sebaiknya kita hidup bagi
sesaat saja. Paham seperti allah, tanggung jawab dan nilai adalah tanpa arti.
Empirisme mempersiapkan nihilisme[1]. Pada hakikatnya pemikiran
Hume bersifat analitis, kritis, dan skeptis. Ia berpangkal pada suatu keyakinan
bahwa hanya kesan – kesanlah yang pasti, jelas dan tidak dapat diragukan.
Berdasarkan pendapatnya ini, Hume sampai pada kesimpulan bahwa “aku” termasuk
dalam dunia khayalan[2]. Sebab bagi Hume dunia
hanya terdiri dari dari kesan – kesan yang terpisah - pisah, yang tidak dapat
disusun secara objektif sistematis, karena tidak ada hubungan sebab akibat
diantara kesan – kesan.
Secara ringkas dapatlah dikatakan
bahwa pengetahuan yang bersifat a priori terdiri dari proposisi
analitik, yakni proposisi yang predikatnya sudah tercakup dalam subyek. Sebagai
contoh, semua angsa putih, semua jejaka itu laki – laki, es itu dingin,
lingkaran itu bulat dan lain- lain. Dan pendapat ini merupakan ciri khas
pemikiran yang bercorak rasionalistik, sebaliknya ciri khas dari empiristik
adalah a posteriori, dan proporsisinya adalah sintetik, yakni tak dapat
diuji kebenaranya dengan menganalisis pernyataan tetapi harus diuji kebenaranya
secara empiris. Misal : rumah mahal, motor baru, dan lain-lain.
Hume mengajukan 3 argumen untuk
menganalisis ssuatu. Pertama , ada idea tentang sebab akibat ( kausalitas ) ;
suatu kejadian disebabkan oleh kejadian dari argument kausalitas ini muncullah
apa yang oleh hume disebut the strongest connection ( hubungan terkuat ) antara
pengalaman kita dan the cement of universe yang merupakan kausalitas universal.
Kausalitas universal ialah hokum yang menyatakan bahwa setiap kejadian pasti
mempunyai penyebab. Kalau mobil mogok kita periksa karburator, system
listriknya dan lain – lain. Akan tetapi , ada kalanya penyebab tersebut tidak diketahui.
Kita hanya tahu bahwa sebab pasti ada, tetapi apa penyebab itu kita tidak tahu.
Ini terjadi biasanya penyebab tersebut amat kompleks. Yang tidak mungkin ialah
tidak ada sebab. Prinsip ini pada Leibnitz disebut alas an yang mencukupi
sufficient reason, kata reason diganti dengan kata cause ( sebab ). Kedua ,
Karen kita mempercayai kausalitas dan penerapanya secara universal, kita dapat
memperkirakan kejadian masa lalu dan masa depan kejadian. Untuk melakukan
peramlan itu kita musti mempercayai observasi kita tentang kejadin sekarng
serta relevansinya dengan masa depan agar kita berani menggeneralisasi
pengalaman itu. Misalnya, bila saya pukul 6 pagi besok, saya sudah mengetahui
bahwa matahari juga sudah terbit. Memgapa saya dapat meramal hal itu ? karena
saya telah mengalami itu sejak lama ; observasi saya relevan dengan masa lalu
dan masa datang tentang terbitnya matahari . sebetulnya hal itu merupakan
penerapan prinsip induksi. Prinsip induksi dalam hal ini dapat diringkaskan
menjadi “masa depan akan menjadi masa lalu”. Ketiga, dunia luar diri memang ada
, yaitu dunia yang bebas dari pengalaman kita. Dunia itu ada sekalipun kita
tidak mempunyai kesan dan idea tentangnya. Hume, seperti Berkeley menolak
adanya pengertian substansi yang tidak dapat dipahami. Akan tetapi, Berkeley
menggunakan penolakan itu untyk mempertahankan tuhan, sedangkan hume menolak
idea ini. Ia tetap seorang skeptis, menolak adanya tuhan. Ia tetap bertahan
pada pendirianya bahwa kita menerima eksistensi hanya bila eksistensi itu
memang eksisten.
Kita melihat bahwa 3 dasar
kepercayaan yang diajukan oleh hume itu sesungguhnya saling berkaitan, yaitu
pengertian tentang sebab yang mendukung prinsip induksi. Dan itu adalah
pendukung teori kausalitas tentang persepsi yang mendukung tentang dunia luar
diri. Hume sebenarnya mengambil kausalitas sebagai pusat utama seluruh
pemikiranya. Ia menolak prinsip kausalitas universal dan menolak juga prinsip
induksi dengan memperlihatkan bahwa tidak ada yang dapat dipertahankan baik
relation of ideas dan matter of fact. Jadi, uraian diatas hanyalah “taktik”
hume dalam menegakan sistemnya. Ia memulai dengan mengajukan pernyataan bahwa
semua pengetahuan haruslah pengetahuan tentang sesuatu. Ia menerangkan apa yang
dimaksudkanyadengan relation of ideas dan matter of fact. Ia memperlihatkan
juga bagaimana cause dan effect merupakan basis seluru pemikiran untuk akhirnya
ia sampai pada kesimpulan bahwa pemikiran tidak dapat berupa sesuatu relation
of ideas dan tidak juga berupa matter of fact. Pengertian yang digunakanya itu
dijelaskan sebagai berikut.
Semua objek pemikiran manusia secara
alamiah dapat dibagi menjadi 2 yaitu relation of ideas dan matter of fact. Yang
dimaksud relation of ideas adalah pengetahuan yang jelas dengan sendirinya
secara akal maupun intuitif seperti pada geometri, aljabar, dan aritmetika. 3 x
5 = 15 adalah hubungan antar jumlah. Proposisi jenis ini cukup diperoleh dengan
operasi pemikiran tanpa bergantung pada ada atau tidaknya bukti dilapangan.
Yang dimaksud matter of fact ialah pengetahuan yang tidak terbukti kebenaranya,
maupun kepalsuanya seperti pernyataan matahari akan terbit besok atau matahari
tidak akan terbit besok. Kedua duanya tidak dapat dibuktikan. Pengetahuan
tentang matter of fact kelihatanya ditemukan berdasarkan tilikan terhadap hokum
sebab akibat.
Mengenai pengetahuan pertama , ia
tidak mengandung persoalan; pengetahuan ini tidak menyangkut pengalaman.
Tentang pengetahuan jenis kedua, hume menjelaskan bahwa pengalaman kita
bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Jika saya membakar jari saya
diatas api, jari saya terbakar, maka saya mengatakan bahwa panas api itulah
yang menyebabkan terbakarnya jari saya ( sebagai akibat ). Sebenarnya kita
tidak dapat menjelaskan kausalitas itu. lalu Hume bertanya, dimanakah kita
dapat mengetahui hakikat pengetahuan tentang hubungan sebab akibat itu.?
Mengenai soal ini hume menyatakan
bahwa bila anda ingin puas , anda mesti meneliti bagaimana anda sampai pada
pengetahuan tentang sebab akibat. Kesimpulan hume ialah bahwa kita mengetahui
sebab akibat bukan melalui akal, melainkan melalui pengalaman. Karena ita
terlalu sering melihatnya, maka kita tahu bahwa bola biliyar bergerak dan
menabrak bola lain dan masuk kedalam lubang yang dapat diperhitungkan
sebelumnya. Seandainya anda belum pernah melihatnya, anda tidak akan memiliki
idea apa – apa tentang itu. Anda juga tidak akan mampu membuat prediksi apa –
apa. Jadi prediksi tentang sebab kaibat yang akan terjadi bergantung pada
pengalaman yang mendahuluinya. Tidak ada akal aktau pemikiran apapun yang
memadai untuk membuat prediksi. Hume mengajukan argument berikut ini.
Setiap akibat adalah kejadian yang
jelas yang berasal dari penyebabnya. Akibat itu tidak ditemukan didalam
penyebab, dan konsep pertama tentang itu, yaitu suatu konsep a priori jelas
merupakam konsep yang tidak semena – mena. Sebab dan akibat hanya dapat
menegakan suatu pendirian atas observasi dan pengalaman. Bila kita berpikir a
priori, dan begitu saja memutuskan sebab akibat sebagaimana hal itu muncul
didalam jiwa kita, itu bebas dari observasi dan pengalaman, tidak akan
menghasilkan pengertian tentang objek itu.
Didalam argument ini hume mulai
menjelaskan bahwa pendapat tentang sebab akibat tidak merupaakan suat hubungan
antar idea ( relation of ideas ) karena hal itu tidak mempunyai bukti. Itu
terbentuk semata – mata oleh akal kita, padahal hanya dengan akal kita tidak
sampai pada pengetahuan adanya sebab akibat. Akhirnya hume menyimpulkan bahwa
ide kausalitas itu tidak juga dapat diperoleh melalui persepsi ( ini adalah
pengalaman. Sekalipun kita memahami berbagai sifat api ( karena mengalaminya ),
kita tidak pernah dapat memahami kekuatan yang menyebabkan api membakar
sesuatu. Pengetahuan kita tentang sebab tidak kita peroleh melalui induksi
hasil pengalaman masa lalu. Dalam taktik hume diatas kelihatan bahwa pada
akhirnya hume menentang induksi. Ia juga menentang prinsip induksi untuk
memprediksi masa depan. Masa depan seperti masa lalu ditentangnya. Prinsip
induksi tidak dapat dipertahankan. Jadi, mula – mula ia menolak adanya
pengetahuan a priori, lalu ia menolak juga sebab akibat, menolak pola induksi
yang berdasarkan pengalaman. Jadi,
habislah sudah segala macam cara memperoleh pengetahuan; semuanya ditolak.
Inilah skeptis tingkat tinggi itu.
Bagimana hakikat semua alas an
kita tentang matter of fact.? Jawaban yang pantas ialah bahwa itu terdapat
dalam hubungan antara sebab dan akibat. Akan tetapi, apa dasar atau alas an
kita untuk mendukung konklusi itu.?
Dasarnya
ialah pengalaman namun, apadak dasar konklusi pengalaman itu andal.? Ini yang
sulit dijawab. Jawaban terbaik adalah : kita tidak tahu. Setelah kita mempunyai
pengalaman operasi sebab akibat, konklusi kita tidak diperoleh dari akal
ataupun melalui proses pengalaman itu.
Alat indra kita menyampaikan kepada
kita warna , ukuran k, kandungan roti, tetapi baik indra maupun akal tidak
memberitahukan kepada kita tentang sifat – sifat itu mengenai caranya
menjadikan kita kenyang dan badan menjadi kuat. Jadi, tidak ada yang kita
ketahui mengenai hubungan antara sifat – sifat objek itu dengan akibat yang
ditimbulkanya. Jiwa tidak mempunyai pedoman untuk membentuk konklusi mengenai
hubungan yang konsisten dan teratur, yang tadi disangka jiwa dituntun oleh sifat
– sifat objek dalam memahami dan memprediksi sebab akibat. Sama halanya dengan
pengealaman masa lalu.ia hanya dapat memberi arah dan informasi mengenai objek pada
saat dialami, tetapibagaimana pengalaman itu dikenakan pada masa depan atau
pada objek lain, yang antara keduanya mempunyai kemiripan lahiriah, kita tidak
tahu. Roti yang saya makan sekarang menyebabkan saya kenyang . apakah pada masa
datang masih akan begitu.? Persoalan yang tidak diketahui ialah daya rahasia
itu.
Argument ini menjelaskan bahwa suatu
hubungan sebab akibat tertentu pada masa lalu dapat dijadikan peramal untuk
suatu hubungan sebab akibat yang mirip pada masa depan. Kesimpulan ini
kelihatanya masuk akal. Bila sekarang saya makan, lalu akibatnya kenyang, maka
cukup beralasan saya menyimpulkan bahwa pada masa depan, bila saya makan tentu
akan kenyang juga. Akan tetapi justru hume bertanya mengapa argument begitu
dikatakan masuk akal. Anda mengatakan bahwa hal itu ( hal bila makan kenyang
dan pada masa depanpun akan kenyang bila makan ) dilakukan oleh pemikiran.
Baiklah, tetapi cobalah jelaskan mengapa begitu. Apa perantara ( medium ) itu.?
Maksudnya : apa medium yang menjelaskan hubungan sebab akibat, juga medium
masa sekarang dan masa depan ?
Disini hume mengingatkan lagi
tentang pembagian pengetahuan yang dibuatnya. Pertama , pengetahauan yang
diperoleh melalui pemikiran tentang hubungan antara idea dan idea ( yang
disebutnya pengetahuan demonstrative ). Kedua, pengetahuan yang
diperoleh melalui pemikiran tentang matter of fact ( yang disebutnya moral ).
Didalam argumen diatas, katanya, tidak ada alasan demonstratif yang memadai
untuk memprediksi masa depan berdasarkan pengalaman maa lalu, juga tidak ada
alasan matter of fact yang memadai untuk terbentuknya kecenderungan pada kita
untuk mempredikdi sebab kita tidak dapat secara pasti menyatakan bahwa masa
depan itu sama betul ( persis ) dengan masa lalu. Sifat selalu berubah.
Kesimpulan dari semua itu ialah prediksi tidak didapat melalui pengalaman. Jadi
, kita sekarang tidak mempunyai apa – apa . pengetahuan a priori tidak ada.
Pengetahan berdasarkan pengalamanpun tidak kuat karena sebab akibat tidak dapat
kita jelaskan hubunganya. Argumen hume yng menentang prinsip kausalitas
universal dan prinsip induksi pada dasarnya merupakan argumen menentang
rasionalsime pada umumnya. Ia mengatakan bahwa hanya dengan berpikir , tanpa
informasi dari pengalaman kita tidak mengetahui apa – apa tentang dunia. Dengan
bantuan pengalaman juga kita tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu. Nah, jelaslah
sudah sifat skeptis pada hume. Apa alasan bagi skeptis ini.? Juga tidak ada
,kata hume. Tidak ada jalan keluar dari skeptis, katanya. Akan tetapi,
sebenarnya, demikian hume, hal ini tidak hanya pada filsafat, tidak hanya pada
pemikiran akal bahkan tentang apakah matahari akan terbit besok, kita tidak
tahu apa –a apa. Kita berpikir: bagaiman mungkin filsafat begitu jauh jaraknya
dari kehidupan ? pantaslah ia disebut pemuncak skeptisisme[3].
BAB III
PENUTUP
David hume mengemukakan
bahwa manusia memperoleh pengetahuanya dari pengalaman – pengalaman yang pernah
seseorang itu alami. Ibarat kertas putih yang belum tergores tinta apapun
itulah gambaran manusia sebelum mendapatkan pengalaman. Meskipun pendapatnya banyak
yang menentang, namun sebenarnya pendapat empirisme ini ada benarnya. Manusia
akan menjadi baik , lebih baik, baik sekali, sungguh baik manakala ia
mendapatkan banyak pengalaman. Contohnya seorang anak berlatih mengendarai
sepeda. Awalnya ia menggunakan roda bantu, lalu roda bantu itu dilepas, anak
mulai jatuh, jatuh, jatuh lagi, dan lagi, kemudian suatu hari anak tersebut
berhasil menyemimbangkan dirinya dalam bersepeda, karena ia sudah tahu,
bagaimana cara ia jatuh, dan bagaimana cara ia mencegahnya.
Dalam dunia pendidikan,
praktik merupakan cara terbaik untuk memperoleh pengalaman. Maka dari itu,
libatkanlah peserta didik dalam semua kegiatan belajar mengajar. Jangan biarkan
anak didik pasif, apalagi dibiarkan pasif. Karena anak akan terbiasa dan jauh
memasuki zona nyaman pasifnya dan berdampak pula pada kurangnya pengalaman,
bahkan akan menurunkan kepercayaan diri anak.
DAFTAR PUSTAKA
Mustansyir, Rizal. Munir, Misnal,
Cet 1 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suseno, Franz magnis. Cet 1 1992. Filsafat
Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius
Tafsir, Ahmad. Cet.1 1990. Filsafat
Umum.Bandung: Remaja Rosdakarya