Selasa, 19 Desember 2017

Organisasi Difabel Nasional Dirintis di UIN Sunan Kalijaga

Pemukulan Gong oleh international office Alicante University menandai Launching INDOEDUC4ALL
Semangat perjuangan yang selama ini telah dilakukan pegiat difabilitas, mulai dari ratifikasiConvention on the Rights of Persons with Disabilities(CRPD) menjadi UU Nomor 8 tahun 2016, sampai berlangsungnya proses penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) merupakan langkah besar. Langkah besar ini tentunya juga memperbesar peluang yang memungkinkan terciptanya pendidikan inklusif di Perguruan Tinggi. Untuk memantapkan perjuangan itu, beberapa perguruan tinggi yang respek terhadap pendidikan difabel seperti UIN Sunan Kalijaga, UII, UIN Syarief Hidayatullah, IAIN Solo, Universitas Surabaya, Universitas Indonesia, Alicante University Spanyol, didukung Dirjen Pendidikan Tinggi sedang merintis berdirinya organisasi difabel nasional di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kepentingan itu, diselenggarakan Konferensi Nasional bertajuk “Ensuring Access and Quality Education for Students with Disabilities in Indonesian Universitiesdan Launching Program INDOEDUC4ALL,di gedung RHA. Soenarjo, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (14/12).
Mantan ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga, yang saat ini masih aktif (turut) mengembangkan keberadaan PLD, Dr. Rof’ah ditemui di sela-sela acara menyampaikan, dirintisnya organisasi difabel nasional dan dilaunchingnya program INDOEDUC4ALL di kampus UIN Sunan Kalijaga, tentunya memberikan semangat tersendiri untuk membenahi pendidikan di Perguruan Tinggi agar memberikan akses yang sama terhadap mahasiswa difabel. Hal ini menjadi modal bagi keberlangsungan perjuangan para organisasi difabel dalam mengawal kebijakan pemerintah, khususnya di wilayah pendidikan.
Ia mencontohkan bagaimana peran organisasi difabel dalam menterjemahkan atau memahami impelementasi pendidikan inklusi. Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK,) Sekolah Dasar (SD,) Sekolah Menengah Pertama (SMP,) Sekolah Menengah Atas (SMA,) sampai Perguruan Tinggi. Mendetailkan teknis pelaksanaan dari poin-pon yang ada di dalam CRPD dan UU Penyandang Disabilitas.
“Mulai dari apa yang harus dilakukan, seperti assisstive teknologi apa yang harus ada, kemudian pentingnya unit difabilitas di semua pelayanan pendidikan, ketersedian sarana dan prasarana itu menjadi penting kunci sukses pendidikan inklusi,” sambung Ro’fah.
Menurut Rof’ah, di kampus UIN Sunan Kalijaga, sebelum berdirinya PLD para mahasiswa telah aktif memberi pendampingan kepada para mahasiswa difabel. Karena memang sejak dulu kampus ini telah menerima difabel untuk bisa studi lanjut. Dengan Lahirnya PLD, kampus ini lebih bisa melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya. Lebih-lebih lagi dengan adanya dukungan dari Dirjen Dikti dan University of Alicante, Spanyol, diharapkan akan bisa segera didirikan organisasi difabel nasional yang akan memayungi berbagai PLD yang ada di kampus-kampus di Indonesia ini. University of Alicante, Spanyol memberikan dukungannya melalui program bernamaINDOEDUC4ALLyang akan berjalan sampai tiga tahun kedepan.Di mana Alicante sebagai koordinator menggandeng enam universitas di Indonesia untuk menjadi agen dari program tersebut. Ke-enamnya adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Surabaya, dan IAIN Surakarta.
Luis Gomez de Membrillera Desantes selakuInternational Officedari Universitas Alicante menjelaskan, Program tersebut dibentuk melihat optimisme dari progres yang ditunjukkan berbagai universitas di Indonesia, baik dalam membentuk layanan dan komitmen terhadap isu difabilitas. Melalui program INDOEDUC4ALL menurutnya, bisa memodernisasikanassisstive tekhnologiatau alat bantu teknologi bagi difabel di setiap universitas.
“Selain dari upaya penyadaran akses pendidikan untuk difabel yang kondisinya juga sama seperti di Alicante. Pada forum ini, program INDOEDUC4ALL saya launching,” tambah Luis.
Selain mengenalkan programINDOEDUC4ALL, Universitas Alicante melalui Direktur Unit Layanan Mahasiswa Difabel, Pepi Parreno menjelaskan kerja-kerja yang sudah dilakukan di universitas asal Spanyol tersebut. Kerja-kerja tersebut menurutnya tidak berbeda dengan apa yang juga dilakukan Pusat Layanan Difabel (PLD) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lebih jauh, Pepi selaku kepala Unit layanan menjelaskan, PLD di Universitas Alicante yang sudah berdiri 17 tahun lalu, berada di bawah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Ketenagakerjaan Universitas Alicante.
Terkait struktur unit layanannya yang diketuai Pepi sendiri, terdapat empat pekerja sosial, di mana salah satunya merupakan seorang sosialog. Selain itu ada dua ahli psikolog dan satu ahli seksolog yang berasal dari sumberdaya eksternal unit layanan. Sedangkan di dalam internal, ada satu orang yang ahli di bidangassisstive tekhnologiatau teknologi bantu untuk difabel.
Pepi juga menjelaskan tujuan dari unit layanan yang dikawalnya untuk menjamin partisipasi penuh dari mahasiswa difabel dengan prinsip kesamaan kesempatan dan aksesibilitas universal. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam setiap pengadaan program-program, serta ruang aspirasi dan menjadi pegangan dalam menjalankan misi penyadaran terhadap masyarakat kampus Alicante dalam memahami difabilitas.
Adapun kerja-kerja yang dilakukan yakni mengindentifikasi kebutuhan mahasiswa difabel, dan memberikan masukan sekaligus membuka layanan konseling. Kemudian membangun rencana aksi terkait program-proram yang akan dilaksanakan ke depan, membimbing dan memberi panduan kepada para dosen bagaimana melakukan adaptasi terhadap pembelajaran. “Sekaligus membuka layanan bagi keduanya,” terang Pepi.
Menurut Pepi, rencana aksi yang sedang berjalan di Alicante. Seperti mengidentifikasi dan mengorganisir mahasiswa difabel yang mau disebut difabel. Sebab menurutnya, tidak semua mahasiswa difabel mengakui kedifabelannya. Mereka juga mengajukan modifikasi tes, ujian dan membuat proposal untuk mengubah mekasnisme pembelajaran yang selama ini belum mengakomodir. Selain itu menginformasikan kepada mahasiswa pentingnya memiliki sertifikat difabilitas dalam workshop atau diskusi tentang difabilitas.
“Dan menjembatani lulusan mahasiswa difabel untuk masuk ke dunia kerja,” lanjut Pepi. Sedangkan dari aspek kerelawanan, ia mengorganisir relawan baik yang diberikan kepada orgnasisasi difabel di sekitarnya yang membutuhkan dan sebaliknya. Unit layanannya menerima relawan dari organisasi difabel. Di samping itu, juga mengadakan pelatihan kerelawanan.
Bagi Pepi, kerja-kerja unit layanan tidak berbeda dengan unit PLD di UIN Sunan Kalijaga. Kehadirannya dalam program yang akan mengajak enam universitas di Indonesia, untuk sama-sama belajar bagaimana menentukan strategi dalam memberikan layanan bagi mahasiswa difabel.
Arif Maftukhin, M.Si., ketua PLD UIN Sunan Kalijaga menjelaskan, untuk menuju kampus inklusi tidak hanya adanya unit layanan. Lebih dari itu, semua masyarakat kampus mulai dari dosen, mahasiswa, dan birokrasi turut serta mengusung dan mendorong kemudahan fasilitas dan pelayanan difabilitas dalam pendidikan inklusi. Dengan adanya program INDOEDUC4ALL dan support 6 PT lain, serta dukungan Dirjen Dikti yang pada forum ini diwakili oelh Rektor Universitas Lambung Mangkurat, pihaknya berharap, akses studi lanjut difabel di Indonesia ke PT semakin terbuka luas.
Rektor Universita Lambung Mangkurat menambahkan, Ke depan akan semakin banyak PT yang menyediakan kursi bagi para difabel. Hal itu telah diamanatkan dalam UU No. 8 Tahun 2016. Dunia kerja juga harus menyediakan porsi untuk lulusan difabel. Dengan prosentasi 100 formasi lapangan pekerjaan, 1 orang diantaranya untuk difabel. Hal ini berlaku untuk instansi pemerintah, perusahaan maupun lembaga swasta. Aturan ini belum banyak yang mengetahui, sehingga perlu terus disosialisasikan agar UU tak sekedar diwajibkan untuk lembaga pemerintah, tapi terimplementasi ke semua lapangan pekerjaan, dengan memberi kemudahan fasilitas untuk tenaga kerja difabel.
Pada forum ini, PLD UIN Sunan Kalijaga memberikan anugerah inklusi kepada beberapa orang relawan, yang telah berkontribusi, berdedikasi dan berkomitmen tak ternilai sejak berdirinya PLD UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang, yakni: Kasman Ibnu (Relawan sebelum ada PLD dan ikut merintis berdirinya PLD), Aslamah dan Ragil Ristiyanti (text:Weni H/ Foto: Doni TW-Humas
http://uin-suka.ac.id/id/web/berita/detail/1548/organisasi-difabel-nasional-dirintis-di-uin-sunan-kalijaga

Senin, 18 Desember 2017

 

INTERNET SEHAT UNTUK ANAK


Kemudahan mengakses informasi dewasa kini menjadi secepat kirim sms di depan tower sinyal. Namun, apakah semua informasi tersebut bermanfaat? Ada kalanya, informasi maupun konten yang kita dapatkan dari internet tidak seluruhnya "sehat", terutama untuk perkembangan anak-anak. Tidak semua konten, dapat layak dikonsumsi oleh anak-anak.
Bagi kalian para orang tua, kakak atau yang terlibat langsung dengan perkembangan anak-anak. Apalagi memiliki jaringan wifi di rumah. Koneksi internet yang sangat cepat selama 24 jam tanpa khawatir kehabisan kuota, membuat anak-anak santai aja bermain game online atau nonton video-video menarik di YouTube. Sebenarnya buat para Mama, menghipnotis anak dengan gadget merupakan cara instan membuat anak anteng dan rumah tetap bersih. Berbeda dengan anak yang asyik bermain dengan membuat rumah bagai kapal pecah. Tapi, sejak kapan cara instan itu baik?Berikut ada tips yang bisa dilakukan supaya anak berinternet dengan sehat dari Kak Rita, selaku founder Komunitas Internet Sahabat Anak (KISA):
1. Dampingi saat anak menggunakan gadget/internet.
Di era digital seperti sekarang, anak-anak tidak bisa lagi dihindarkan dari gadget/internet. Anak-anak perlu diperkenalkan pada internet tapi harus didampingi supaya mereka tidak mengakses dan terpapar konten negatif. Selain itu, dengan memberikan pendampingan, orang tua juga bisa melihat potensi dan bakat anak, serta mengarahkan anak-anak untuk memanfaatkan internet seperti membuat games sederhana, desain, menulis cerita, dsb.
2. Batasi waktu bermain gadget/internet
Untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, sebaiknya sama sekali tidak diperkenankan menggunakan gadget/internet. Di atas usia 2 tahun, mulai diperbolehkan bermain gadget/internet dengan memberikan batasan waktu sesuai tingkat usianya. Saya sendiri membolehkan putri saya yang berusia 8 tahun untuk bermain internet/gadget dengan memberikan batasan waktu yaitu 2 jam sehari. Selebihnya, anak-anak diajak untuk melakukan aktivitas lainnya seperti bermain musik, beraktifitas di luar rumah, bersepeda, menggambar, merancang bangunan dengan permainan balok, dsb.
3. Berikan alasan dan penjelasan saat memberikan gadget/internet kepada anak-anak
Jangan memberikannya hanya untuk sekedar gaya-gayaan atau ikut-ikutan saja. Bila dirasa perlu untuk komunikasi, bisa diberikan gadget yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Lalu berikan pemahaman dan diskusikan tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan alat teknologi tersebut.
4. Ajarkan Literasi Media
Karena orang tua tidak bisa selalu ada di dekat mereka. Jadi, ajarkan anak-anak untuk memahami mana saja konten yang positif, netral, dan negatif. Tanamkan rasa disiplin dan tanggung jawab dalam berinternet. Sehingga anak-anak memiliki kekebalan dan mengetahui konten mana yang boleh dan tidak boleh dia akses. Sehingga tidak mudah terpengaruh juga oleh teman-temannya.
5. Parental Control
Yang harus dilakukan juga adalah menggunakan parental control untuk memblokir situs-situs berbahaya bagi anak. Saat ini, ada beberapa parental control yang bisa didownload secara gratis. Tapi, parental control terbaik tetap saja adalah orang tuanya.
Sekian tipsnya sahabat desa coding, semoga sangat bisa di praktekkan dirumah.







 

Senin, 06 November 2017

Contoh Makalah Tauhid: aliran-aliran Teologi Ialam



A.    PENDAHULUAN
Di zaman Nabi Muhammad Saw. umat islam dapat kompak dalam bidang agama, termasuk di bidang aqidah. Kalau ada hal – hal yang diperselisihkan diantara para sahabat , mereka mengembalikan persoalanya kepada Nabi. Maka penjelasan beliau itulah kemudian menjadi pegangan dan ditaatinya.
Semasa pemerintahan Abu Bakar As-Siddiq dan khalifah Umar bin Khatab , keadaan umat islam pada masa itu masih tampak kompak seperti keadaaanya pada masa nabi. Hingga terjadi peristiwa yang menimpa khalifah Utsman bin Affan . dia dibunuh oleh para pemberontak dari mesir yang tidak puas terhadapkebijakan politiknya. Sejak saat itu citra khalifah rusak binasa. Umat islam terjerumus dalam benturan – benturan yang menyebabkan mereka menyimpang dari jalan yang lurus yang selama ini telah mereka lalui.
B.     PEMBAHASAN
1.      Muktazilah
Kaum mu’tazilah adalah golongan yang membawa peroalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa oleh aliran sebelumnya. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama”kaum rasionalis islam”.
Nama mu’tazilah yang diberikan kepada kaum ini berasal dari kata I’tazala/I’tizal yang berarti memisahkan atau mengasingkan diri.banyak pendapat dan teori dari berbagai literature yang membahas asal usul dan sebab penamaan aliran ini dengan mu’tazilah. Al-Syahrastani : mereka memberi nama mu’tazilah karna wasil bin atha’ dan amr ibnu ubay memisahkan diri dari kuliah gasan al basri , dan memnegaskan kembali pandangan mereka tentang pembuat dosa besar tidak mukmin dan tidak kafir tetapi,mereka ada diantara dua posisi tersebut.saat itu mereka disebut mu’tazilah.
Aliran muktazilah membagi perbuatan manusia menjadi 2 bagian yaitu :
a.       Perbuatan yang timbul dengan sendirinya, seperti gerakan refleksi dan lain – lain. Perbuatan ini jelas bukan diadakan manusia atau terjadi karena kehendaknya.
b.      Perbuatan – perbuatan bebas, dimana manusia bisa melakukan pilihan antara mengerjakan dan tidak mengerjakan. Perbuatan semacam ini lebih pantas dikatakan diciptakan ( khalq ) manusia daripada dikatakan diciptakan tuhan, karena adanya alasan – alasan akal pikiran syara’.

       Alasan – alasan akal pikiran
a.       Kalau perbuatan itu diciptakan tuhan seluruhnya, sebagaimana yang dikatakan aliran jabariyah, maka apa perlunya ada taklif ( perintah ) pada manusia ?
b.      Pahala dan siksa tidak akan ada artinya, karena manusia tidak mengerjakan baik atau buruk yang timbul dari kehendaknya sendiri.

Alasan – alasan syara’
Sesungguhnya allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu bangsa , sehingga mereka itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada dirinya. ( Q.S. Ar-Ra’du, 13:11)
Siapa yang mengerjakan kebajikan sebesar biji atom ia akan melihatnya, dan siapa yang mengerjakan keburukan sebesar atom ia akan melihatnya. ( Q.S. Az-Zalzalah , 99:8)
Siapa yang mengerjakan keburukan , akan dibalas dengnan keburukan ( Q.S. An-Nisa’, 4 :123 )
Masih ada ayat – ayat laiya yang menyatakan bahwa manusia dapat berbuat baik atau buruk. Ayat tersebut lebih tegas menetapkan adanya perbuatan manusia, dan ia sendiri yang bertanggung jawab terhadap perbuatanya, bukan orang lain.
Selain itu , ada ayat – ayat lain yang menegur orang – orang kafir karena mereka tidak mau beriman, sedang mereka sebenarnya mereka bisa kalau mereka mau, antara lain :
Mengapakah mereka berpaling ( lari ) dari peringatan ? ( Q.S. Al-Mudatsir , 74:49 )
Tetapi orang aniaya itu mengikat hawa nafsunya tanpa pengetahuan. ( Q.A. Ar-Rum, 30:29 )
Lebih jelas lagi ayat – ayat mempertalikan kemauan / kehendak kepada manusia seperti :
Barangsiapa yang suka hendaklah beriman , barangsiapa yang suka hendaklah menjadi kafir. ( Q.S. Al-Kakhfi, 18:29 )
Masih ada ayat – ayat ikhtiyar ( yang menyatakan pilihan pada manusia ) yang lebih banyak jumlahnya dari pada ayat – ayat jabr , disamping ayat – ayat lainya yang mengumpulkan jabr dan ikhtiyar , sehingga seseorang tidak perlu menekankan segi ikhtiyar saja atau jabr saja.
Kalau ayat –a yat ikhtiyar menjadi pegangan utama aliran muktazilah , maka dengan sendirinya ayat – ayat jabr harus ditakwilkan , sebagaimana yang diperbuat Az-Zamakhsyari, tokoh muktazilah dalam tafsirnya Al-Kasysyaf[1].
Kaum muktazilah terlalu berlebih –lebihan dalam menghormati dan mengagungkan akal , sedang akal itu sendiri sering keliru dan salah. Penghormatan terhadap akal telah menyebabkan sebagian mereka berpendapat bahwa gerakan surge dan neraka akan terhenti, dan menyebabkan surge dan neraka itu beserta orang – orang yang ada didalamnya menjadi diam dan tenang selama-lamanya. Pada saat diam itulah penduduk surge menikmati segala macam kelezatan, dan penduduk neraka merasakan segala macam siksa.
Yang menyebabkan mereka berpendapat semacam itu ialah bahwa akal telah mengamanatkan kepadanya, bahwa tiap – tiap yang ada awalnya tentu ada pula akhirnya. Oleh Karen asurga dan neraka itu ada awalnya, pastilah ada akhir dan sesudahnya.
Islam adalah agama yang mudah dan gampang . akan tetapi kaum muktazilah telah menyebabkan akidah islam yang mudah itu menjadi ruwet dan berbelit – belit yaitu dengan memasukan filsafat ketuhanan ( lahut ) dan alam , yang tidak dapat memperjelas ajaran – ajaran islam , bahkan membuatnya menjadi kabur.
Kaum muktazilah menyelami lautan filsafat untuk mempertahankan agama islam, akan tetapi banyak diantara mereka itu memakai senjata tersebut untuk menikam diri sendiri. Atau dengan kata lain : sebagian dari mereka tenggelam dalam lautan filsafat itu, mereka kehilangan pedoman dan sesat jalan, sampai ada diantara mereka yang menganut paham reinkarnasi.
Ketika kaum muktazilah membahas masalah kekacauan yang terjadi pada permulaan islam, maka kebanyakan mereka membolehkan untuk mencela para sahabat nabi. Bahkan mereka telah mencela dan menyerang para sahabat itu dengan serangan – serangan yang sengit, yang tidak selaras dengan riwayat perjuangan mereka yang gilang gemilang dalam menyiarkan islam dan mendukung rasul Saw bahkan kadang – kadang serangan – serangan itu membawa orang kepada keragu – raguan dan kefasikan.
Semua factor tersebut diatas disamping dukungan mereka untuk menggunakan kekerasan terhadap orang – orang yang tidak menerima pendapat tentang “ khalqul qur’an” , telah menyebabkan orang orang lari dari lingkungan muktazilah, dan menyebabkan kelemahan dan keruntuhan mereka sendiri[2].

2.      Jabariyah
Pemikiran jabariyah timbul bersamaan dengan timbulnya pemikiran qadariyah, dan tampaknya merupakan reaksi daripadanya. Daerah tempat timbulnya juga tidak berjauhan. Yakni persia, sedangkan qadariyah di irak. Tokoh aliran jabariyah ialah jahm bin safwan, oleh karena itu pemikiran ini kadang disebut juga dengan Al-Jahamiyah. Ia terkenal dengn sifatnya yang tekun dan rajin menyiarkan agama. Fatwanya yang menarik adalah bahwa manusia tidak mempunyai daya upaya, tidak ada ikhtiyar dan kasab. Semua perbuatan manusia itu terpaksa ( majbur ) diluar kemauanya[3]. Baik berupa gerakan refleksi atau gerakan lain yang semacam atau perbuatan – perbuatan yang kelihatanya dikehendaki atau disengaja, seperti berbicara, berjalan dan sebagainya, karena manusia sebenarnya tidak mempunyai kekuasaan dan pilihan sama sekali. Manusia tidak lain bagaikan bulu yang ditiup angin , tidak mempunya gerak sendiri. Kalau dikatakan manusia dapat berbuat, maka hanya dalam lahirnya saja, sebagaimana kalau dikatakan batu jatuh, motor berjalan dan sebagainya[4].
Qadrat dan iradat Alloh Swt. adalah membekukan dan mencabut kekuasaan manusia sama sekali. Pada hakikatnya segala pekerjaan dan gerak – gerik manusia sehari – harinya adalah paksaan semata. Kebaikan dan kejahatan itupun semata – mata paksaan pula, sekalipun nantinya manusia memperoleh balasan surge dan neraka. Karena itu paham jabariyah ini melampaui batas , sehingga mengiktikadkan bahwa tidak berdosa kalau berbuat kejahatan , karena yang berbuat itu hakekatnya Alloh Swt. pula, kesesatanya, mereka berpendapat bahwa orang itu mencuri, maka Alloh juga mencuri, jika orang itu sholat, maka Alloh juga shalat. Jadi jika ada orang yang berbuat buruk dan orang itu masuk kedalam neraka, maka Alloh tidak adil. Karena apapun yang dibuat manusia tidak satupun terlepas dari Qadrat dan Iradat-Nya.
Sebagian pengikut jabariyah beranggapan telah bersatu dengan tuhan . disini menimbulkan paham wihdatul wujud , yaitu manunggaling kawulo lan gusti, bersatunya hamba dengan Dia. Perbuatan yang dilakukan manusia baik yang terpuji maupun yang tercela pada hakikatnya bukanlah hasil pekerjaanya sendiri, melainkan hanyalah ciptaan Alloh Swt yang dilaksanakan-Nya melalui tangan manusia. Dengan demikian, manusia itu tiadalah mempunyai perbuatan dan tidak pula mempunyai kuasa untuk berbuat. Sebab itu, orang mukmin tidak akan menjadi kafir Karen dosa besar yang dilakukanya, sebab ia melakukanya semata – mata karena terpaksa.
Jahm berkata “manusia tidak mempunyai qadrat untuk berbuat  sesuatu. Dan dia tidak mempunyai “kesanggupan” dia hanay terpaksa dalam perbuatanya. Dia tidak mempunyai Qadrat dan Ikhtiyar , melainkan tuhanlah yang menciptakan perbuatan – perbuatan pada dirinya, seperti ciptaan – ciptaan tuhan pada benda mati. Memang perbuatan - perbuatan itu dinisbatkan kepad a orang tersebut, tetapi itu hanyalah nisbah majaszi, secara kiasan , sama halnya kalau kita menisbahkan sesuatu perbuatan kepada benda – benda mati, misalkan dikatakan “ pohon itu berbuah”, atau “air mengalir”, “batu bergerak”, “matahari terbit dan tenggelam “  “langit mendung dan menurunkan hujan” dan lain sebagainya. Pahala dan siksapn adalah paksaan , sebagaimana halnya dengan perbuatan – perbuatan,  apabila paksaan itu telah tetap maka taklif adalah paksaan juga” 
Alasan – alasan aliran tersebut adalah :
a.       Kalau manusia dapat berbuat, berarti dia menjadi sekutu tuhan, atau sekurang – kurangnya dapat mengadakan perbuatan yang mungkin tidak tunduk kepada kehendak tuhan.
b.      Ayat – ayat yang menurut lahirnya menyatakan bahwa tuhanlah yang menjadikan segala sesuatu, seperti
tuhan yang menjadikan segala sesuatu. ( Q.S . Az-Zummar, 39:62)
tuhan mengunci mati hati dan telinga manusia ( Q.S. As-Saffat, 37:96)
bahwasanya engkau ( Muhammad) tidaklah berkuasa untuk memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang – orang yang dikehendaki-Nya. ( Q.S. Al-Qashas 28:56
dan andaikata tuhanmu menghendaki, niscaya berimanlah orang – orang yang ada dibumi ini semuanya. ( Q.S Yunus 10:99 )
sebenarnya ayat – ayat tersebut bisa ditakwilkan, sehingga tidak perlu meinggalkan ayat – ayat lain yang berlawanan dengan ayat – ayat tersebut diatas.
            Dalam segi – segi tertentu , jabariyah dan muktazilah memiliki kesamaan pendapat, misalnya tentang sifat Alloh Swt. surge dan neraka tidak kekal, Alloh Swt tidak bisa dilihat kelak, Al-Qur’an itu makhluk lain dan lain sebagainya. Jahm bin safwan terbunuh oleh pasukan bani umayah pada 131 H.
            Menurut paham Ahlus – sunnah , bahwa segala sesuatu itu memang dijadikan oleh alloh swt. tetapi alloh juga menjadikan ikhtiar dan kasab bagi manusia. Sesuatu yang diperbuat manusia adalah pertemuan ikhtiar manusia dengan takdirnya. Ikhtiar dan kasab hanya sebagai sebab saja, bukan yang mengadakan atau menciptakan sesuatu. Umpamanya, kalau sesuatu benda tersentuh api, maka ia terbakar. Bila orang itu makan maka kenyanglah. Tetapi perlu diingat bahwa bukan api yang membakarnya dan bukan pula nasi yang mengenyangkanya, semua karena alloh swt semata.kadang – kadang bisa terjadi sebaliknya, bila alloh swt menghendaki, banyak benda yang tersentuh api tetapi tidak terbakar. Banyak orang yang berusaha sekuat tenaga tetapi justru sial dan kemalangan yang diperoleh. Kalau obat itu mesti dapat menyembuhkan penyakit, tetntu tidak ada orang yang mati, sebab sakit apapun dapat disembuhkan. Dan obat dapat mencegah kematian . bermacam – macam obat untuk bermacam – macam penyakit, kenyataan menunjukan bahwa banyak penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Tua dan kematian, sesuatu yang tidak ada obatnya.
            Manusia memperoleh hukuman karena ikhtiar dan kasabnya yang tidak baik dan akan diberi pahala atas ikhtiar dan kasabnya  yang baik.
Qadariyah
Qadariyah mula – mula timbul sekitar tahun 70 H/689 M, dipimpin oleh Ma’bad Al-Juhni Al-Bisri dan Ja’ad bin dirham, pada masa pemerintahan khalifah Abdul malik bin Marwan ( 685-705 M ).
Latar belakang timbulnya Qadariyah ini sebagai syarat menentang kebijaksanaan politik bani umayah yang dianggapnya kejam. Apabila pemikiran jabariyah berpendapat bahwa khalifah bani umayah membunuh orang, hal itu karena sudah ditakdirkan Alloh Swt. demikian dan hal ini berarti merupakan topeng kekejamanya, maka pemikiran qadariyah mau membatasi qadar tersebut. Mereka mengatakan kalau Alloh Swt itu adil, maka Alloh akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Manusia harus bebas menentukan nasibnya sendiridengan memilih perbuatan yang baik atau yang buruk. Jika Alloh Swt telah menentukan terlebih dahulu nasib manusia maka Alloh Swt itu dzalim. Karena itu, manusia harus merdeka memilih atau ikhtiar atas perbuatanya ( khaliqul af’al ). Manusia harus mempunyai kebebasan berkehendak. Orang yang berpendapat bahwa amal perbuatan dan nasib manusia itu hanyalah bergantung pada qadar Alloh Swt saja, selamat atas celaka seseorang itu telah ditentuka oleh Alloh Swt sebelumnya, maka pendapat tersebut adalah sesat. Sebab pendapat tersebut berarti menentang keutamaan Alloh Swt dan berarti menganggapnya yang menjadi sebab terjadinya kejahatan – ejahatan. Mustahil Alloh melakukan kejahatan.
Ajaran ajaran qadariyah segera mendapat pengikut yang cukup sehingga khalifah segera mengambil tindakan dengan alas an demi ketertiban umum. Ma’bad al juhni dan beberapa pengikutnya ditangkap dan dia sendiri dihukum bunuh di damaskus ( 80 H / 690 M ). Setelah peristiwa ini, maka pengaruh paham qadariyah semakin surut, akan tetapi dengan munculnya aliran muktazilah, sebetulnya dapat diartikan sebagai penjelmaan kembali paham – paham qadariyah sebab antara keduanya , terdapat persamaan filsafatnya, yang selanjutnya disebut sebagai kaum qadariyah muktazilah.
Sebagian orang – orang qadariyah mengatakan bahwa semua perbuatan manusia yang baik itu berasal dari alloh swt, sedangkan perbuatan manusia yang jelek itu manusia sendiri yang menciptakanya, tidak ada sangkut pautnya dengan alloh swt.
3.      Aliran Asy’ariah
Menurut kaum Asy’ariah, paham Tuhan mempunyai kewajiban tidak dapat diterima,karna hal itu bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang mereka anut.faham mereka bahwa Tuhan dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap makhluk,mengandung arti bahwa Tuhan tak mempunyai kewajiban apa-apa sebagaimana kata Al Ghazali perbuatan-perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib(jaiz) dan tidak satupun daripadanya yang mempunyai sifat wajib. Demikia al asy’ari sekali-kali tidak mempunyai kewajiban terhadap hamba Nya[5].
Al Asy’ari berpendapat bahwa perbuatan manusia tidak akan terlepas dari kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Menurut pendapat nya,manusaia tidak mampu menciptakan apapun,bahkan sebenarnya manusialah yang di ciptakan-Nya. Pendapat ini didasar kan pada Qs.Al Insan ayat 30. Begitu juga manusia tidak memiliki kemampuan,tanpa ada izin dan pengetahuan Nya. Seandainya Tuhan memberikan kelembutan iman niscaya mereka akan menjadi orang soleh,dan jika Tuhan memberinya petunjuk,niscaya mereka mendapat petunjuk itu[6].
            Menurut pendapat lain,yaitu Al Baqillani dalam memahami perbuatan manusia berbeda pendapat dengan Al Asy’ari yang sama dengan Jabariah . Bagi al-Baqilani manusia mempunyai sumbangan (andil) yang efektif dalam perwujudan perbuatanya. Yang di wujudkan Tuhan adalah gerak yang terdapat dalam diri manusia. Adapun bentuk dan sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia itu sendiri[7].

4.      Maturidiah
a.       Maturidi Bukhara, Kaum ini berpendapat bahwa Tuhan memiliki kekuasaan yang mutlak. Menurut al-Bazdawi, Tuhan memang berbuat apa saja yang dikehendaki Nya. Tidak ada yang dapat menantang /memaksa Tuhan, dan tidak ada larangan-larangan terhadap Tuhan. Akan tetapi walaupun bagaimana juga,faham mereka tentang kekuasaan Tuhan tidak semutlak faham Asy'ariyah.
b.      Maturidiah Samarkand
Golongan ini tidak sekeras golongan Bukhara dalam mempertahankan kemutlakan kekuasaan Tuhan,tetapi tidak pula memberikan batasan seperti yang di berikan mu'tazilah terhadap kekuasaan mutlak Tuhan. Adapun batasan-batasan yang di berikan golongan samarkand adalah:
a.       kemerdekaan dalan kemauan dan perbuatan yang menurut pendapat mereka ada pada manusia.
b.      keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang,tetapi berdasarkan atas kemerdekaan manusia dalam mempergunakan daya yang diciptakan Tuhan dalam dirinya untuk berbuat baik atau berbuat jahat.
c.       Keadaan hukuman-hukuman Tuhan,sebagai kata al-bayadi(tidak boleh,tidak mesti terjadi).
Dalam pada itu tidak perlu kiranya di tegas kan bahwa yang menentukan batasan-batasan itu bukan lah zat selain dari Tuhan,karena diatas Tuhan tidak ada satupun zat yang lebih berkuasa,Tuhan adalah di atas segala-galanya. Batasan-batasan itu di tentukan oleh Tuhan sendiri dan dengan kemauan Nya sendiri pula[8].


















C.    PENUTUP
KESIMPULAN
munculnya paham jabariyah berawal dari persoalan takdir Tuhan dalam kaitanya dengan perbuatan manusia[9]. Dalam pandanganya manusia itu seperti wayang yang dikendalikan oleh tuhan dan tak mempunyai daya apapun untuk bertindak sesuai keinginanya sendiri.
 lalu muncul paham Qadariyah sebagai sanggahan terhadap paham jabariyah. Menurut paham ini manusia itu memiliki kebebasan untuk berbuat , jika manusia ingin berbuat sesuatu , maka terjadilah perbuatan itu[10] .
kemudian muncul kembali aliran baru, yakni muktazilah yang membawa persoalan teologi lebih mendalam dan bersifat filosofis dari persoalan – persoalan yang dibawa aliran aliran sebelumnya. Menurut mereka manusia dapat menciptakan perbuatan, perbuatan itu merupakan kehendak manuisa sendiri bukan kehendak tuhan. Sekiranya manusia tidak berkuasa menciptakan perbuatanya sendiri tentunya taklif merupakan hal yang sia – sia.
Asy’ariah muncul karena ketidak puasan terhadap pemikiran mu’tazilah mengenai teologis,politis, dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Aliran ini berhasil menarik rakyat banyak sebagai penganut dibawah naungannya.hal ini disebabkan oleh banyak factor,antara lain campur tangan khalifah/penguasa,adanya para tokoh jenius dan terampil serta terkemuka di tengah masyarakat.konsep ajaran sederhana,tidak terbelit-belit dengan rumusan filsafat disamping budaya masyarakat yang bersifat agresif.
Maturidiyah samarkand merupakan aliran yang berdiri dengan pemikiran sendiri,meskipun sebenarnya memeiliki banyak kesamaan dengan alran mu’tazilah.sehingga dapat dikatakan sebagai aliran teologi islam yang paling rasional dari golongan ahli sunah dan jamaah dan mendekati rasionalnya mu’tazilah.sementara itu maturidiyah Bukhara ternyata lebih dekay kepada paham asy’ariah.









Daftar Pustaka
Sahilun A. Nasir .Pemikiran Kalam ( Teologi Islam ). Jakarta : RajaGrafIndo.cet.2 2012  

Ahmad Hanafi .Teologi Islam. Jakarta: PT Bulan Bintang. cet.12 2001
Ris’an Rusli, Teologi Islam: telaah sejarah dan pemikiran tokoh – tokohnya, Jakarta: Prenamedia Group.2015
Harun Nasution,Teologi Islam:aliran-aliran sejarah analisa perbandingan.Jakarta:UI-Press.1986.


[1] Ahmad Hanafi ,Teologi Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, cet.12 2001, hlm 175-176
[2]Sahilun A. Nasir ,Pemikiran Kalam ( Teologi Islam ), Jakarta : RajaGrafIndo,cet.2 2012 , hlm. 186-187
[3]Ibid., hlm 143
[4] Ahmad Hanafi ,Teologi Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, cet.12 2001, hlm 173-174
[5] Ibid.,hlm.128.
[6] Ris’an Rusli,Teologi Islam:telaah sejarah dan pemikiran tokoh-tokohnya,Jakarta:Prenadamedia.hlm.112.
[7] Ibid.,hlm.115-116.
[8] Harun Nasution,Teologi Islam:Aliran-aliran sejarah analisis perbandingan,Jakarta:UI-Press.cetakan 5 1986.hlm.102.
[9] Ris’an Rusli, Teologi Islam: telaah sejarah dan pemikiran tokoh – tokohnya, Jakarta: Prenamedia Group.2015, hlm 37

[10] Ibid.hlm. 47