
Dr. Dhani Herdiwijaya mengatakan,
masih banyak pertanyaan mengenai alam semesta yang membutuhkan kajian
keilmuan. Pertanyaan yang menarik misalnya apakah benar manusia hanya
ada di bumi, planet yang sangat kecil? Apakah peran dan posisi manusia
dalam alam semesta? Seperti juga bumi, bagaimana peranan planet-planet
sebagai satu-kesatuan alam semesta ini, dan seterusnya. Kajian ilmu
pengetahuan mengenai keberadaan manusia di bumi dan alam semesta ini
masih sangat dibutuhkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan,
kesejahteraan umat manusia dan agar alam semesta ini tidak diperlakukan
semena-mena. Dan kajian-kajian ilmu pengetahuan astronomi akan menjadi
bermakna bagi kelangsungan kehidupan manusia jika menjadikan Al-Qur’an
sebagai pedoman dan dasar utamanya. Hal tersebut disampaikan Dosen
Departemen Astronomi, ITB dalam forum kuliah umum yang dihadiri ratusan
mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, bertempat di gedung Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., 2/10/17.
Selain sebagai Dosen, Dr. Dhani adalah Astronom Indonesia yang mendapat
anugerah sebagai Astronom dari Astronomy International Union (AIU),
dimana namanya dipakai untuk menamai Astreroid 12178, dengan nama
Astreroid Dhani.
Lebih jauh Dr. Dhani menyampaikan, umat
muslim dituntut belajar tehadap para ilmuwan pendahulu, seperti
al-Khwarizmi dengan al-jabarnya, Abu al-Qasim al-Zahrawi merupakan father of surgery (Bapak Bedah Kedokteran), Ibn al-Haytham (Alhazen) melalui Kitab al-Manazir (Book of Optics)
sampai mendapat julukan “Bapak Optik”. Sesungguhnya pengembangan ilmu
pengetahuan di bumi ini dimulai oleh ilmuwan Muslim. Oleh karena itu,
meneruskan apa yang telah dicapai oleh para ilmuwan Muslim terdahulu,
umat Muslim saat ini harus terus gigih belajar, melakukan kajian-kajian
pengembangan ilmu pengatahuan dan teknologi untuk kesejahteraan manusia
dan kelestarian alam semesta, seperti yang diperintahkan dalam al
Qur’an, termasuk didalamnya pengembangan keilmuan Astronomi.
Menurut Dr. Dhani, banyak yang perlu
dipahami sebelum melakukan kajian-kajian bidang Astronomi. Seperti; alam
semesta terbagi dalam banyak ukuran dari skala mikrokosmos sampai
makrokosmos. Contoh mikrokosmos adalah nyamuk, diperlihatkan bentuk
struktur bagian depan nyamuk menggunakan lensa pembesar dengan kemampuan
membaca skala micro. Selanjutnya adalah makrokosmos, di mana
benda-bendanya memiliki ukuran yang sangat besar, contoh: planet,
bintang, asteroid, meteor, dan lain-lain.
Bumi merupakan salah satu dari sekian
banyak planet di alam semesta. Bumi dapat disebut sebagai planet biru.
Bumi yang ukurannya besar masih terlihat kecil jika dibandingkan dengan
planet-planet yang lainnya di alam semesta. Di sistem tata surya, bumi,
merkurius, venus, dan mars terletak di bagian dalam yang dipisahkan oleh
sabuk asteroid. Sedangkan jupiter, saturnus, uranus, neptunus adalah
planet diluar sabuk asteroid. Benda langit selanjutnya adalah asteroid.
Asteroid mengandung material besi yang banyak di dalamnya. Asteroid yang
paling dekat dengan bumi berjarak 100 kali jarak bumi-bulan (400.000
km).
Contoh temuan dari kajian Astronomi pada dekane ini, ditemukan lebih
dari 16.000 asteroid yang dekat dengan bumi. Asteroid berpotensi
tabrakan terhadap bumi yang dapat menghancurkan bumi. Contoh tabrakan
yang pernah terjadi, terjadi di kawah Chicxulub, Meksiko 60 juta tahun
lalu dengan rentangan 280 km. Ditafsirkan bahwa kawah itu terdapat
anomali gravitasi magnetik. Pada saat terjadinya sekitar 75% spesies di
bumi punah, sinar matahari hanya 20% yang dapat menyinari bumi karena
debunya menutupi seluruh atmosfer di bumi. Namun, asteroid memiliki
manfaat, seperti suplai material besi. Besi berasal dari
bintang-bintang. Bintang-bintang yang mati ada yang meledak dan
ledakannya berupa bongkahan material seperti asteroid, yang sampai ke
bumi.
Sampai saat ini, observasi luar angkasa masih terus dilakukan.
Seperti mencari planet-planet di luar sistem tata surya. Ditemukan
planet-planet yang sangat redup, sedangkan bintang sangat terang.
Sehingga digunakan cara lain untuk menutupi sinar bintang selain
pengamatan langsung menggunakan teleskop. Akhirnya pada tahun 1995
ditemukan pertama kalinya planet luar tata surya.
Temuan lain, di relung-relung alam semesta lahir bintang-bintang baru
dan bintang-bingtang yang mati. Awal hidupnya bintang dimulai dari
adanya nebula, kita tidak tahu apa yang ada di balik nebula tersebut
dengan teleskop biasa, caranya menggunakan teleskop sinar x yang
ditembakkan ke nebula, teleskop tersebut harus diletakkan di luar
angkasa. Akhirnya terlihatlah apa yang ada dibalik nebula tersebut.
Tersimpan banyak sekali bintang-bintang baru di sana. Cara mengetahui
apakah bintang itu baru atau tidak adalah dengan melihat panjang
gelombang atau spketrum cahayanya dari bintang tersebut. Ketika bintang
telah dewasa sinarnya akan menghilangkan nebula tersebut, sehingga ia
dapat diamati dengan mudah menggunakan teleskop.
Ada pula bintang yang mati. Kematian bintang dapat dilihat pula
melalui spektrum cahayanya. Kematian bintang biasanya ditandai dengan
ledakan (
supernova). Bintang mati ada yang “tenang” dan ada yang “tidak tenang” itu terlihat pada kesimetrisan distribusi spektrum cahayanya.
Supernova Crab pernah ditemukan oleh astronom China pada tahun 1054, dengan tanpa teleskop. Ada pula
supernova dengan
daya ledakan yang dahsyat sehingga cahaya ledakannya itu menyamai
cahaya galaksi. Bintang yang meledak meninggalkan inti yang sangat kecil
namum memiliki massa yang sangat besar, kemampuan gaya gravitasinya
dapat menyebabkan cahaya yang melaluinya berbelok ke arahnnya, biasanya
ini akan disebut sebagai
blackhole atau lubang hitam.
Ada suatu pertanyaan yang menarik, mangapa langit malam gelap?
Fisikawan Jerman, Heinrich Wilhelm Olbers tahun 1823 mempertanyakan:
Jika ada bermilyar bintang dan galaksi, mengapa langit malam tidak
terang, tetapi justru gelap ini disebut sebagai paradoks Olbers.
Pertanyaan ini terjawab oleh penelitian Edwin Hubble, ia melakukan
pengamatan spektroskopi galaksi dan memperlihatkan adanya pergeseran
merah (redshift) yang menandakan galaksi saling bergerak menjauh.
Galaksi adalah kumpulan bermilyar-milyar bintang dan materi antar
bintang. Galaksi kita atau Bimasakti diperkirakan memiliki 2 inti
galaksi. Dari penelitian Hubble tadi menandakan bahwa alam semesta
mengembang dan pengembangan itu dipercepat atau bergerak dengan
percepatan (a). Lalu mengapa galaksi-galaksi dapat saling bergerak
relativ satu dengan yang lainnya, diindikasikan bahwa ada energi
tersembunyi atau disebut
the dark energy yang menjadi
penyebabnya. Itulah mengapa pengembangan alam semesta yang dipercepat.
Persentase penyebaran alam semesta terdiri dari 68,3%
dork energy, 26,8
dark matter, dan Hanya 4.9 % materi tampak yang dapat dilihat di alam semesta ini seperti galaksi, bintang, dan planet.
Menurut Dr. Dhani kajian Astronomi salah satunya didasari oleh Q.S.
Al- Qur’an Az Zariyat 51: 7, yang terjemahannya; Demi langit yang
mempunyai jalan-jalan. Apakah jalan itu tampak seperti jalan dengan
disertai arus yang membawa materi sehingga ketika memasukinya tanpa
materi atau benda tersebut harus mengeluarkan energinya ia sudah sampai
pada suatu planet yang dilalui jalur tersebut.
Kajian Astronomi bisa di interkoneksikan dengan kajian ilmu tentang
manusia. Contohnya; besi dalam darah kita berasal dari inti bintang.
Nafas dan hidup kita dari kemurahan alam. Syaraf kita identik dengan
alam semesta yang diibaratkan bahwa alam semesta seperti sistem syaraf
pada makhluk hidup yang saling terhubung. Akal mendahului jasad
menjangkau alam. Manusia menyatu dalam sistem alam semesta. Maka
kehidupan kita dan alam semesta ini wajib kita syukuri. Bagaimana wujud
syukur itu? Yakni; menambah semangat ibadah kita kepada Allah SWT,
semangat untuk belajar dan berkarya sepanjang hayat agar kita siap
menjadi khalifah alam semesta, yang bisa mensejahterakan/melestarikan
bumi dan seisinya, demikian tegas Dr. Dhani.
Ketua Prodi Fisika, Dr. Thaqibul Fikri Niartama, yang hadir pada
forum ini menyampaikan, forum ini akan ditindaklanjuti dengan
pelaksanaan MoU dengan Astronomi ITB dan Observatorium Boscha. Pihaknya
berharap, akan mendapat dukungan dana riset yang cukup dari institusi
untuk mendukung pengembangan keilmuan Astronomi Islam yang dikoneksikan
dengan pengembangan keilmuan Sains dan Teknologi di kampus ini
(Weni-Humas).
Sumber Artikel :
http://uin-suka.ac.id/id/web/berita/detail/1498/dari-kajian-astronomi-alam-semesta-untuk-manusia-ilmu-pengetahu