Rabu, 25 Oktober 2017

Kisah Heroik Peraih IPK Tertinggi FITK

Tarbiyah, Paradigma Online - Kesuksesan tidak serta merta berjalan mulus seperti halnya dalam sinetron. Begitulah kiranya ungkapan yang sesuai dengan keadaan dan hasil perjuangan mahasiswi terbaik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Khusnul Hidayah.

Perempuan cantik asal Wonosobo ini menjalani suka duka selama perkuliahan. Sukanya adalah ia memiliki banyak pengalaman dan bisa berbagi dengan orang lain. Dukanya pun tak sedikit, karena ia bisa dikatakan modal nekat melanjutkan perkuliahan. Sebelumnya ia belum memiliki cukup pengalaman dibidang perkuliahan yang ia ambil.

“Sempat jatuh bangun dalam proses perkuliahan, serba salah dan merasa kalau studi yang diambil tidak sesuai dengan dirinya. Apalagi sewaktu mengajukan proposal dan tema yang sempat ditolak, sampai membuat susah move on selama kurang lebih 6 bulan,” ceritanya pada Paradigma saat ditemui setelah prosesi wisuda usai. (28/11)

Setelah tema diterima pun masih harus sering merevisi skripsi, namun hal itu menjadi sederhana ketika ia mengatakan, “itu hal yang biasa,” ungkapnya. Mendapatkan IPK 3,84 dengan predikatCumlaude tentu membanggakan, namun IPK ini tidak mudah diraih tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Selain aktivitas kuliah, ia juga aktif di beberapa organisasi. Diantaranya KAMMI, LDK, Muslimah Pecinta Al-Qur’an, Tahsin Al–Qur’an, dan mulai masuk Rumah Tahfidz pada saat semester V sampai sekarang.

“Yang terpenting adalah usaha karena hasil pasti selalu sebanding dengan usaha, jalani saja, dan tentu kita juga harus memiliki konsistensi dan profesionalitas dalam menempatkan diri,” Ia menambahkan.
 
Khusnul juga berbagi tips agar bisa memanage waktu dengan baik. “Semisal ketika kita berada di organisasi, ya sudah kita all out di organisasi. Ketika bergelut di  bangku kuliah, ya sudah kita jugaall out di perkuliahan. Hal ini berlaku juga ketika kita berada dalam aktivitas lain. Point-nya kita harus bisa memanagemen dan menempatkan diri kita semaksimal dan seprofesional mungkin,” paparnya dengan semangat yang membara. [Izzah]

Selasa, 24 Oktober 2017

Serba-Serbi UTS: Open Book atau Close Book

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, setengah jalan sudah Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung. Setiap hari, mahasiswa disibukkan mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh. Melihat soal ujian  yang dibuat dosen, nampaknya terdapat dua tipikal soal yang sering dijumpai ketika ujian, yaitu bersifat tertutup (close book) dan terbuka (open book). Berbagai anggapan yang muncul dari mahasiswa tentang kedua sifat ujian tersebut.
            “Ujian yang bersifat open book memberikan keuntungan bagi mahasiswa dalam mengerjakannya. Mahasiswa akan lebih mudah menjawab soal karena tinggal mencari jawaban di buku” jelas Fahmi mahasiswa Kependidikan Islam. “Selain itu, mahasiswa dalam menghadapi ujian cukup mempersiapkan buku yang terkait matakuliah, tanpa harus belajar dengan keras” imbuhnya. (26/3)
            Lain halnya dengan Fatma Firdanti, mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ditemui usai melaksanakan UTS mengungkapkan, sifat ujian yang terbuka atau tertutup sama saja, tergantung butir soalnya. Kebanyakan soal yang diberikan adalah analisis, meskipun sifatnya terbuka tetap membutuhkan pendapat dan analisis pribadi. “Terkadang ujian yang open book saja banyak mahasiswa nggak bawa buku. So, apapun sifat ujianya sama saja bukan” tandasnya. (28/3)
            Berbeda dengan Yuli Setya Budi, yang beranggapan bahwa ujian seharusnya bersifat tertutup semua, sehingga menuntut mahasiswa untuk belajar dan mempersiapkan ujian dengan baik. “Sementara itu, dengan ujian close book dosen dapat mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah diberikan” ungkap mahasiswa PAI yang ditemui disela kesibukannya mengerjakan skripsi.

Selasa, 17 Oktober 2017

MARAKNYA ACARA HIBURAN DI TELEVISI, PENTING ATAU SAMPAH?



          Siapapun pasti pernah menonton televisi, apapun program dan channelnya. Di Indonesia televisi pada awal-awal debutnya hanya menyajikan berita-berita dan beberapa sinetron. Tetapi, sekarang program acara televisi tidak hanya itu. Sedikitnya ada tujuh kategori program acara televisi zaman sekarang, yakni acara anak, drama, sinetron, olahraga, berita, talkshow, dan gosip. Semua kategori itu pada umumnya dapat kita saksikan dalam satu stasiun televisi. Namun semua berubah setelah persaingan rating memanas.
            Sekarang, stasiun televisi hanya fokus pada satu sampai tiga kategori saja. Seperti salah satu stasiun televisi yang setiap jam menayangkan drama kolosal India, kadang menayangkan acara hiburan, tapi pemainya masih didominasi oleh aktor India. Lalu ada stasiun televisi yang setiap harinya tak henti – henti dangdutan, bahkan acara final dangdut bisa diputar kembali dua sampai tiga hari setelahnya. Stasiun televisi yang sering menayangkan berita pun tak mau kalah, kini telah hadir drama-drama dari Turki yang bisa anda saksikan hanya di stasiun televisi ber motto “memang beda” tersebut. Sungguh mengecewakan, siapapun pasti kecewa menyaksikan realita ini. kecuali sebagian golongan. Bahkan dalam lagu captain jack yang berjudul televisi sampah disebutkan dengan gamblang sekali di setiap liriknya. Namun, sebenarnya apa sih dampak negatif dari maraknya acara-acara yang mendominasi ini? Akan kita bahas dalam penjelasan berikut.
1.      Berdampak sangat buruk pada pendidikan anak. Cara kerja otak anak adalah apa yang ia lihat dan lakukan secara berulang-ulang, dan menjadi trend di lingkungan sekitarnya,  maka itulah yang akan menjadi mindset atau pola pikir yang tertanam dalam otak anak. Contohnya anak yang terlalu sering menonton serial kolosal India, dapat menimbulkan perilaku seperti apa yang ia bahas setiap ia bicara adalah sesuatu yang menyangkut tentang kolosal India, baik itu nama tokohnya, perilakunya, ataupun cara berpakaianya. Tidak hanya sebatas itu, kini banyak anak-anak di seluruh nusantara yang mulai fasih berbahasa Malaysia. Memang tidak terlalu buruk, tapi keadaan akan semakin memburuk apabila hanya itu yang diterima anak setiap hari.

2.      Banyak kehilangan waktu produktif. Siapa yang tahu kapan acara dangdut yang diperlombakan di televisi itu selesai dalam setiap episodenya? Siapapun pasti geleng-geleng. Nyatanya acara perlombaan dangdut  di stasiun televisi itu tak mengenal waktu. Mulai tayang jam 18.30 dan berakhir seselesainya. Durasi yang pernah penulis saksikan yakni minimal tiga jam. Bahkan pernah sampai jam dua pagi dan alhamdulillah bisa berakhir berkat pertengkaran antar dewan juri. Jika ditanya apa ada manusia yang mau kehilangan waktu produktifnya? Jawabanya tidak. Tapi sebenarnya banyak manusia yang kehilangan waktu produktifnya tanpa mereka sadari. Menonton acara yang terlalu memakan waktu seperti ini sangatlah menjadi contoh nyata kehilangan waktu produktif yang tidak disadari. Karena banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu tiga jam itu. Seperti belajar, membaca buku, beribadah, diskusi, memasak bagi ibu rumah tangga, ataupun beristirahat.

3.      Sempitnya akses informasi. Zaman dahulu mengakses berita dari televisi itu adalah hal yang sangat mudah. Jika stasiun televisi satu sedang acara spongebob, kita bisa menonton berita di stasiun televisi dua, jika stasiun televisi dua sedang acara berita olahraga dan kita hendak melihat berita politik kita bisa mengganti ke stasiun televisi tiga. Tapi sekarang tidak bisa seperti dulu, kita harus buka internet. Karena itulah masyarakat menjadi kurang mengikuti perkembangan dunia. Apalagi semenjak mendominasinya sinetron dan drama-drama di televisi Indonesia, minat penonton menyaksikan berita pun menurun. Realita yang ditemukan dalam masyarakat adalah mereka lebih senang menonton acara yang masih berkaitan, seperti menonton acara gosip dimana yang menjadi sorotan adalah publik figur yang biasa mereka lihat di sinetron atau drama-drama. Masyarakat bahkan lebih antusias menonton acara ini ketimbang menyaksikan berita yang mengabarkan keadaan dari seluruh Nusantara. seperti acara yang mengabarkan bahwa anak Ashyanti berulang tahun, anak Rafi Ahmad yang sudah bisa ngomong “baabaa”. Tidak penting sebenarnya acara-acara yang hanya mengabarkan beberapa orang saja. Lagipula masalah mereka jauh dari jangkauan kita, mereka juga bukan karakter utama dalam dunia ini. Jadi, berhentilah melihat sesuatu yang sempit, dan mulailah melihat sesuatu yang lebih luas.

Dari pemaparan di atas, seharusnya anda sudah bisa menentukan dipihak mana sekarang. Sebenarnya menonton televisi itu tergantung dari pribadi masing-masing orangnya. Ada yang dengan mudah dapat menyeleksi tontonan, ada juga yang sulit. Tidak dapat disimpulkan dalam satu karakter. Namun, kenyataanya orang yang dapat menyeleksi tontonan ini jumlahnya lebih sedikit ketimbang yang tidak bisa. Yakni dari kalangan ibu-ibu, perempuan remaja, dan  anak-anak yang hidup dilingkungan ibu-ibu dan perempuan remaja, yang notabene menyukai sinetron-sinetron yang tidak berfaedah. Yang paling mengkhawatirkan adalah anak sebagai penerus bangsa. Bagaimana mungkin anak akan mencintai Bahasa Indonesia jika di otak mereka sudah tertanam Bahasa Malaysia sejak balita, bagaimana anak akan belajar jika setiap jam adalah tontonan favoritnya, bagaimana anak akan mengetahui tokoh-tokoh penting di Indonesia jika yang ia tonton adalah tokoh-tokoh favoritnya dalam sinetron.  Sebagai orang dewasa, berpikirlah dewasa.

Rabu, 04 Oktober 2017

Lagi-lagi Raih Penghargaan

Dr. Dhani Herdiwijaya mengatakan, masih banyak pertanyaan mengenai alam semesta yang membutuhkan kajian keilmuan. Pertanyaan yang menarik misalnya apakah benar manusia hanya ada di bumi, planet yang sangat kecil? Apakah peran dan posisi manusia dalam alam semesta? Seperti juga bumi, bagaimana peranan planet-planet sebagai satu-kesatuan alam semesta ini, dan seterusnya. Kajian ilmu pengetahuan mengenai keberadaan manusia di bumi dan alam semesta ini masih sangat dibutuhkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, kesejahteraan umat manusia dan agar alam semesta ini tidak diperlakukan semena-mena. Dan kajian-kajian ilmu pengetahuan astronomi akan menjadi bermakna bagi kelangsungan kehidupan manusia jika menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan dasar utamanya. Hal tersebut disampaikan Dosen Departemen Astronomi, ITB dalam forum kuliah umum yang dihadiri ratusan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bertempat di gedung Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., 2/10/17. Selain sebagai Dosen, Dr. Dhani adalah Astronom Indonesia yang mendapat anugerah sebagai Astronom dari Astronomy International Union (AIU), dimana namanya dipakai untuk menamai Astreroid 12178, dengan nama Astreroid Dhani.
Lebih jauh Dr. Dhani menyampaikan, umat muslim dituntut belajar tehadap para ilmuwan pendahulu, seperti al-Khwarizmi dengan al-jabarnya, Abu al-Qasim al-Zahrawi merupakan father of surgery (Bapak Bedah Kedokteran), Ibn al-Haytham (Alhazen) melalui Kitab al-Manazir (Book of Optics) sampai mendapat julukan “Bapak Optik”. Sesungguhnya pengembangan ilmu pengetahuan di bumi ini dimulai oleh ilmuwan Muslim. Oleh karena itu, meneruskan apa yang telah dicapai oleh para ilmuwan Muslim terdahulu, umat Muslim saat ini harus terus gigih belajar, melakukan kajian-kajian pengembangan ilmu pengatahuan dan teknologi untuk kesejahteraan manusia dan kelestarian alam semesta, seperti yang diperintahkan dalam al Qur’an, termasuk didalamnya pengembangan keilmuan Astronomi.
Menurut Dr. Dhani, banyak yang perlu dipahami sebelum melakukan kajian-kajian bidang Astronomi. Seperti; alam semesta terbagi dalam banyak ukuran dari skala mikrokosmos sampai makrokosmos. Contoh mikrokosmos adalah nyamuk, diperlihatkan bentuk struktur bagian depan nyamuk menggunakan lensa pembesar dengan kemampuan membaca skala micro. Selanjutnya adalah makrokosmos, di mana benda-bendanya memiliki ukuran yang sangat besar, contoh: planet, bintang, asteroid, meteor, dan lain-lain.
Bumi merupakan salah satu dari sekian banyak planet di alam semesta. Bumi dapat disebut sebagai planet biru. Bumi yang ukurannya besar masih terlihat kecil jika dibandingkan dengan planet-planet yang lainnya di alam semesta. Di sistem tata surya, bumi, merkurius, venus, dan mars terletak di bagian dalam yang dipisahkan oleh sabuk asteroid. Sedangkan jupiter, saturnus, uranus, neptunus adalah planet diluar sabuk asteroid. Benda langit selanjutnya adalah asteroid. Asteroid mengandung material besi yang banyak di dalamnya. Asteroid yang paling dekat dengan bumi berjarak 100 kali jarak bumi-bulan (400.000 km).
Contoh temuan dari kajian Astronomi pada dekane ini, ditemukan lebih dari 16.000 asteroid yang dekat dengan bumi. Asteroid berpotensi tabrakan terhadap bumi yang dapat menghancurkan bumi. Contoh tabrakan yang pernah terjadi, terjadi di kawah Chicxulub, Meksiko 60 juta tahun lalu dengan rentangan 280 km. Ditafsirkan bahwa kawah itu terdapat anomali gravitasi magnetik. Pada saat terjadinya sekitar 75% spesies di bumi punah, sinar matahari hanya 20% yang dapat menyinari bumi karena debunya menutupi seluruh atmosfer di bumi. Namun, asteroid memiliki manfaat, seperti suplai material besi. Besi berasal dari bintang-bintang. Bintang-bintang yang mati ada yang meledak dan ledakannya berupa bongkahan material seperti asteroid, yang sampai ke bumi.
Sampai saat ini, observasi luar angkasa masih terus dilakukan. Seperti mencari planet-planet di luar sistem tata surya. Ditemukan planet-planet yang sangat redup, sedangkan bintang sangat terang. Sehingga digunakan cara lain untuk menutupi sinar bintang selain pengamatan langsung menggunakan teleskop. Akhirnya pada tahun 1995 ditemukan pertama kalinya planet luar tata surya.
Temuan lain, di relung-relung alam semesta lahir bintang-bintang baru dan bintang-bingtang yang mati. Awal hidupnya bintang dimulai dari adanya nebula, kita tidak tahu apa yang ada di balik nebula tersebut dengan teleskop biasa, caranya menggunakan teleskop sinar x yang ditembakkan ke nebula, teleskop tersebut harus diletakkan di luar angkasa. Akhirnya terlihatlah apa yang ada dibalik nebula tersebut. Tersimpan banyak sekali bintang-bintang baru di sana. Cara mengetahui apakah bintang itu baru atau tidak adalah dengan melihat panjang gelombang atau spketrum cahayanya dari bintang tersebut. Ketika bintang telah dewasa sinarnya akan menghilangkan nebula tersebut, sehingga ia dapat diamati dengan mudah menggunakan teleskop.
Ada pula bintang yang mati. Kematian bintang dapat dilihat pula melalui spektrum cahayanya. Kematian bintang biasanya ditandai dengan ledakan (supernova). Bintang mati ada yang “tenang” dan ada yang “tidak tenang” itu terlihat pada kesimetrisan distribusi spektrum cahayanya. Supernova Crab pernah ditemukan oleh astronom China pada tahun 1054, dengan tanpa teleskop. Ada pula supernova dengan daya ledakan yang dahsyat sehingga cahaya ledakannya itu menyamai cahaya galaksi. Bintang yang meledak meninggalkan inti yang sangat kecil namum memiliki massa yang sangat besar, kemampuan gaya gravitasinya dapat menyebabkan cahaya yang melaluinya berbelok ke arahnnya, biasanya ini akan disebut sebagai blackhole atau lubang hitam.
Ada suatu pertanyaan yang menarik, mangapa langit malam gelap? Fisikawan Jerman, Heinrich Wilhelm Olbers tahun 1823 mempertanyakan: Jika ada bermilyar bintang dan galaksi, mengapa langit malam tidak terang, tetapi justru gelap ini disebut sebagai paradoks Olbers. Pertanyaan ini terjawab oleh penelitian Edwin Hubble, ia melakukan pengamatan spektroskopi galaksi dan memperlihatkan adanya pergeseran merah (redshift) yang menandakan galaksi saling bergerak menjauh.
Galaksi adalah kumpulan bermilyar-milyar bintang dan materi antar bintang. Galaksi kita atau Bimasakti diperkirakan memiliki 2 inti galaksi. Dari penelitian Hubble tadi menandakan bahwa alam semesta mengembang dan pengembangan itu dipercepat atau bergerak dengan percepatan (a). Lalu mengapa galaksi-galaksi dapat saling bergerak relativ satu dengan yang lainnya, diindikasikan bahwa ada energi tersembunyi atau disebut the dark energy yang menjadi penyebabnya. Itulah mengapa pengembangan alam semesta yang dipercepat. Persentase penyebaran alam semesta terdiri dari 68,3% dork energy, 26,8 dark matter, dan Hanya 4.9 % materi tampak yang dapat dilihat di alam semesta ini seperti galaksi, bintang, dan planet.
Menurut Dr. Dhani kajian Astronomi salah satunya didasari oleh Q.S. Al- Qur’an Az Zariyat 51: 7, yang terjemahannya; Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. Apakah jalan itu tampak seperti jalan dengan disertai arus yang membawa materi sehingga ketika memasukinya tanpa materi atau benda tersebut harus mengeluarkan energinya ia sudah sampai pada suatu planet yang dilalui jalur tersebut.
Kajian Astronomi bisa di interkoneksikan dengan kajian ilmu tentang manusia. Contohnya; besi dalam darah kita berasal dari inti bintang. Nafas dan hidup kita dari kemurahan alam. Syaraf kita identik dengan alam semesta yang diibaratkan bahwa alam semesta seperti sistem syaraf pada makhluk hidup yang saling terhubung. Akal mendahului jasad menjangkau alam. Manusia menyatu dalam sistem alam semesta. Maka kehidupan kita dan alam semesta ini wajib kita syukuri. Bagaimana wujud syukur itu? Yakni; menambah semangat ibadah kita kepada Allah SWT, semangat untuk belajar dan berkarya sepanjang hayat agar kita siap menjadi khalifah alam semesta, yang bisa mensejahterakan/melestarikan bumi dan seisinya, demikian tegas Dr. Dhani.
Ketua Prodi Fisika, Dr. Thaqibul Fikri Niartama, yang hadir pada forum ini menyampaikan, forum ini akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan MoU dengan Astronomi ITB dan Observatorium Boscha. Pihaknya berharap, akan mendapat dukungan dana riset yang cukup dari institusi untuk mendukung pengembangan keilmuan Astronomi Islam yang dikoneksikan dengan pengembangan keilmuan Sains dan Teknologi di kampus ini (Weni-Humas).

Sumber Artikel :

http://uin-suka.ac.id/id/web/berita/detail/1498/dari-kajian-astronomi-alam-semesta-untuk-manusia-ilmu-pengetahu