Siapapun pasti pernah menonton televisi, apapun program dan channelnya. Di Indonesia televisi pada awal-awal debutnya hanya menyajikan berita-berita dan beberapa sinetron. Tetapi, sekarang program acara televisi tidak hanya itu. Sedikitnya ada tujuh kategori program acara televisi zaman
sekarang, yakni acara anak, drama, sinetron, olahraga,
berita, talkshow, dan gosip. Semua kategori itu pada umumnya dapat kita saksikan dalam satu stasiun televisi. Namun semua berubah setelah persaingan rating
memanas.
Sekarang, stasiun televisi hanya fokus pada satu sampai tiga kategori saja. Seperti salah satu stasiun televisi yang setiap jam menayangkan drama kolosal India, kadang menayangkan acara hiburan, tapi pemainya masih didominasi oleh aktor India. Lalu ada stasiun televisi yang setiap harinya tak henti – henti dangdutan,
bahkan acara final dangdut bisa diputar kembali dua sampai tiga hari setelahnya. Stasiun televisi yang sering menayangkan berita pun tak
mau kalah, kini telah hadir drama-drama dari Turki yang bisa anda saksikan hanya di stasiun televisi ber motto “memang beda” tersebut. Sungguh mengecewakan, siapapun pasti kecewa menyaksikan realita ini. kecuali sebagian golongan. Bahkan dalam lagu captain jack yang berjudul televisi sampah disebutkan dengan gamblang sekali di setiap
liriknya. Namun, sebenarnya apa sih dampak negatif dari maraknya acara-acara yang mendominasi ini? Akan kita bahas
dalam penjelasan berikut.
1.
Berdampak
sangat buruk pada pendidikan anak. Cara kerja otak anak adalah apa yang ia lihat
dan lakukan secara berulang-ulang, dan menjadi trend di lingkungan
sekitarnya, maka itulah yang akan
menjadi mindset atau pola pikir yang tertanam dalam otak anak. Contohnya
anak yang terlalu sering menonton serial kolosal India, dapat menimbulkan
perilaku seperti apa yang ia bahas setiap ia bicara adalah sesuatu yang
menyangkut tentang kolosal India, baik itu nama tokohnya, perilakunya, ataupun
cara berpakaianya. Tidak hanya sebatas itu, kini banyak anak-anak di seluruh nusantara yang mulai fasih
berbahasa Malaysia. Memang tidak terlalu buruk, tapi keadaan akan semakin memburuk
apabila hanya itu yang diterima anak setiap hari.
2.
Banyak
kehilangan waktu produktif. Siapa yang tahu kapan acara dangdut yang
diperlombakan di televisi itu selesai dalam setiap episodenya?
Siapapun pasti geleng-geleng. Nyatanya acara perlombaan dangdut di stasiun televisi itu tak mengenal waktu. Mulai tayang jam 18.30
dan berakhir seselesainya. Durasi yang pernah
penulis saksikan yakni minimal tiga jam. Bahkan pernah sampai jam dua pagi dan alhamdulillah bisa berakhir
berkat pertengkaran antar dewan juri. Jika ditanya apa ada manusia yang mau
kehilangan waktu produktifnya? Jawabanya tidak. Tapi sebenarnya banyak manusia
yang kehilangan waktu produktifnya tanpa mereka sadari. Menonton acara yang
terlalu memakan waktu seperti ini sangatlah menjadi contoh nyata kehilangan
waktu produktif yang tidak disadari. Karena banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu tiga
jam itu. Seperti belajar, membaca buku, beribadah,
diskusi, memasak bagi ibu rumah tangga, ataupun beristirahat.
3.
Sempitnya akses
informasi. Zaman dahulu mengakses berita dari televisi itu adalah
hal yang sangat mudah. Jika stasiun televisi satu sedang acara spongebob, kita bisa menonton berita di
stasiun televisi dua, jika stasiun televisi dua sedang acara berita olahraga dan
kita hendak melihat berita politik kita bisa mengganti ke stasiun televisi tiga. Tapi sekarang tidak bisa seperti dulu,
kita harus buka internet. Karena itulah masyarakat menjadi kurang mengikuti
perkembangan dunia. Apalagi semenjak mendominasinya sinetron dan
drama-drama di televisi Indonesia, minat penonton menyaksikan
berita pun menurun. Realita yang ditemukan dalam masyarakat adalah mereka lebih
senang menonton acara yang masih berkaitan, seperti menonton acara gosip dimana yang menjadi sorotan
adalah publik figur yang biasa mereka lihat di sinetron atau drama-drama.
Masyarakat bahkan lebih antusias menonton acara ini ketimbang menyaksikan
berita yang mengabarkan keadaan dari seluruh Nusantara. seperti acara yang
mengabarkan bahwa anak Ashyanti berulang tahun, anak Rafi Ahmad yang sudah bisa
ngomong “baabaa”. Tidak penting sebenarnya acara-acara yang hanya mengabarkan
beberapa orang saja. Lagipula masalah mereka
jauh dari jangkauan kita, mereka juga bukan karakter utama dalam dunia ini.
Jadi, berhentilah melihat sesuatu yang sempit, dan mulailah melihat sesuatu yang
lebih luas.
Dari pemaparan di atas, seharusnya anda sudah bisa
menentukan dipihak mana sekarang. Sebenarnya menonton televisi itu tergantung dari
pribadi masing-masing orangnya. Ada yang dengan mudah dapat
menyeleksi tontonan, ada juga yang sulit. Tidak dapat disimpulkan dalam satu
karakter. Namun, kenyataanya orang yang dapat menyeleksi tontonan ini jumlahnya
lebih sedikit ketimbang yang tidak bisa. Yakni dari kalangan ibu-ibu, perempuan
remaja, dan anak-anak yang hidup
dilingkungan ibu-ibu dan perempuan remaja, yang notabene menyukai sinetron-sinetron
yang tidak berfaedah. Yang paling mengkhawatirkan adalah anak sebagai
penerus bangsa. Bagaimana mungkin anak akan mencintai Bahasa Indonesia jika di otak
mereka sudah tertanam Bahasa Malaysia sejak balita, bagaimana anak akan belajar
jika setiap jam adalah tontonan favoritnya, bagaimana anak akan mengetahui
tokoh-tokoh penting di Indonesia jika yang ia tonton adalah tokoh-tokoh
favoritnya dalam sinetron. Sebagai orang
dewasa, berpikirlah dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar