Selasa, 17 Oktober 2017

MARAKNYA ACARA HIBURAN DI TELEVISI, PENTING ATAU SAMPAH?



          Siapapun pasti pernah menonton televisi, apapun program dan channelnya. Di Indonesia televisi pada awal-awal debutnya hanya menyajikan berita-berita dan beberapa sinetron. Tetapi, sekarang program acara televisi tidak hanya itu. Sedikitnya ada tujuh kategori program acara televisi zaman sekarang, yakni acara anak, drama, sinetron, olahraga, berita, talkshow, dan gosip. Semua kategori itu pada umumnya dapat kita saksikan dalam satu stasiun televisi. Namun semua berubah setelah persaingan rating memanas.
            Sekarang, stasiun televisi hanya fokus pada satu sampai tiga kategori saja. Seperti salah satu stasiun televisi yang setiap jam menayangkan drama kolosal India, kadang menayangkan acara hiburan, tapi pemainya masih didominasi oleh aktor India. Lalu ada stasiun televisi yang setiap harinya tak henti – henti dangdutan, bahkan acara final dangdut bisa diputar kembali dua sampai tiga hari setelahnya. Stasiun televisi yang sering menayangkan berita pun tak mau kalah, kini telah hadir drama-drama dari Turki yang bisa anda saksikan hanya di stasiun televisi ber motto “memang beda” tersebut. Sungguh mengecewakan, siapapun pasti kecewa menyaksikan realita ini. kecuali sebagian golongan. Bahkan dalam lagu captain jack yang berjudul televisi sampah disebutkan dengan gamblang sekali di setiap liriknya. Namun, sebenarnya apa sih dampak negatif dari maraknya acara-acara yang mendominasi ini? Akan kita bahas dalam penjelasan berikut.
1.      Berdampak sangat buruk pada pendidikan anak. Cara kerja otak anak adalah apa yang ia lihat dan lakukan secara berulang-ulang, dan menjadi trend di lingkungan sekitarnya,  maka itulah yang akan menjadi mindset atau pola pikir yang tertanam dalam otak anak. Contohnya anak yang terlalu sering menonton serial kolosal India, dapat menimbulkan perilaku seperti apa yang ia bahas setiap ia bicara adalah sesuatu yang menyangkut tentang kolosal India, baik itu nama tokohnya, perilakunya, ataupun cara berpakaianya. Tidak hanya sebatas itu, kini banyak anak-anak di seluruh nusantara yang mulai fasih berbahasa Malaysia. Memang tidak terlalu buruk, tapi keadaan akan semakin memburuk apabila hanya itu yang diterima anak setiap hari.

2.      Banyak kehilangan waktu produktif. Siapa yang tahu kapan acara dangdut yang diperlombakan di televisi itu selesai dalam setiap episodenya? Siapapun pasti geleng-geleng. Nyatanya acara perlombaan dangdut  di stasiun televisi itu tak mengenal waktu. Mulai tayang jam 18.30 dan berakhir seselesainya. Durasi yang pernah penulis saksikan yakni minimal tiga jam. Bahkan pernah sampai jam dua pagi dan alhamdulillah bisa berakhir berkat pertengkaran antar dewan juri. Jika ditanya apa ada manusia yang mau kehilangan waktu produktifnya? Jawabanya tidak. Tapi sebenarnya banyak manusia yang kehilangan waktu produktifnya tanpa mereka sadari. Menonton acara yang terlalu memakan waktu seperti ini sangatlah menjadi contoh nyata kehilangan waktu produktif yang tidak disadari. Karena banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu tiga jam itu. Seperti belajar, membaca buku, beribadah, diskusi, memasak bagi ibu rumah tangga, ataupun beristirahat.

3.      Sempitnya akses informasi. Zaman dahulu mengakses berita dari televisi itu adalah hal yang sangat mudah. Jika stasiun televisi satu sedang acara spongebob, kita bisa menonton berita di stasiun televisi dua, jika stasiun televisi dua sedang acara berita olahraga dan kita hendak melihat berita politik kita bisa mengganti ke stasiun televisi tiga. Tapi sekarang tidak bisa seperti dulu, kita harus buka internet. Karena itulah masyarakat menjadi kurang mengikuti perkembangan dunia. Apalagi semenjak mendominasinya sinetron dan drama-drama di televisi Indonesia, minat penonton menyaksikan berita pun menurun. Realita yang ditemukan dalam masyarakat adalah mereka lebih senang menonton acara yang masih berkaitan, seperti menonton acara gosip dimana yang menjadi sorotan adalah publik figur yang biasa mereka lihat di sinetron atau drama-drama. Masyarakat bahkan lebih antusias menonton acara ini ketimbang menyaksikan berita yang mengabarkan keadaan dari seluruh Nusantara. seperti acara yang mengabarkan bahwa anak Ashyanti berulang tahun, anak Rafi Ahmad yang sudah bisa ngomong “baabaa”. Tidak penting sebenarnya acara-acara yang hanya mengabarkan beberapa orang saja. Lagipula masalah mereka jauh dari jangkauan kita, mereka juga bukan karakter utama dalam dunia ini. Jadi, berhentilah melihat sesuatu yang sempit, dan mulailah melihat sesuatu yang lebih luas.

Dari pemaparan di atas, seharusnya anda sudah bisa menentukan dipihak mana sekarang. Sebenarnya menonton televisi itu tergantung dari pribadi masing-masing orangnya. Ada yang dengan mudah dapat menyeleksi tontonan, ada juga yang sulit. Tidak dapat disimpulkan dalam satu karakter. Namun, kenyataanya orang yang dapat menyeleksi tontonan ini jumlahnya lebih sedikit ketimbang yang tidak bisa. Yakni dari kalangan ibu-ibu, perempuan remaja, dan  anak-anak yang hidup dilingkungan ibu-ibu dan perempuan remaja, yang notabene menyukai sinetron-sinetron yang tidak berfaedah. Yang paling mengkhawatirkan adalah anak sebagai penerus bangsa. Bagaimana mungkin anak akan mencintai Bahasa Indonesia jika di otak mereka sudah tertanam Bahasa Malaysia sejak balita, bagaimana anak akan belajar jika setiap jam adalah tontonan favoritnya, bagaimana anak akan mengetahui tokoh-tokoh penting di Indonesia jika yang ia tonton adalah tokoh-tokoh favoritnya dalam sinetron.  Sebagai orang dewasa, berpikirlah dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar